Sukses Muda Pasti Bisa

Benarkah demikian?
Dapatkah ini digapai?
Ataukah ini hanya sekedar slogan beberapa orang yang bertekad untuk mengejar impian serta cita-citanya untuk meraih kesuksesan?

Berawal dari segudang pertanyaan yang terbersit dipikiran saya; akhirnya saya pun mencari  referensi dari berbagai tokoh di Alkitab. saya pun terkagum oleh tokoh yang satu ini.

Ya dialah Ishak. Seorang muda yang hidup di masa sulit. Kekeringan yang telah melanda daerah tempat tinggalnya,  membuat Ishak berniat untuk menyebrang ke daerah Mesir.

Pada waktu itu Allah menyatakan diri Nya pada Ishak dan mengatakan: perjanjian yang telah Aku ikat dengan bapakmu Abraham, masih tetap berlaku. Keturunanmu akan sebanyak bintang dilangit JIKALAU engkau tetap berdiam diri di negeri yang telah Kujanjikan ini.

Dan pada akhirnya, ia memilih untuk taat kepada firmanNya dan tetap bermukim di daerah Filistin.

Ishak merupakan seorang pengusaha ternak yang memulai usahanya dari kecil-kecilan.

Ketika Ishak percaya serta beriman pada Firman Nya, TUHAN pun tidak melupakan janji Nya. Lalu  diberkatilah Ishak dan usahanya. Usahanya ini membuahkan hasil seratus kali lipat dalam tahun pertamanya. Dan kian lama kian bertambah kayalah Ishak. Kawanan kambing domba lembu sapi semakin bertambah banyak.

Kecemburuan sosial pun tak terhindarkan antara penduduk sekitar dengan Ishak.
Keadaan pun kian lama semakin menghimpit  Ishak. Sumur-sumur yang telah ada ditimbun dengan tanah dan ditutup oleh penduduk sekitar. Lalu Ishak pun menyingkir ke daerah lainnya. Kejadian ini terus berulang kembali.

Pada waktu yang ke empat kalinya, akhirnya Allah menyatakan diri Nya dan meneguhkan kembali iman Ishak. Dan sesudah itu Raja negeri itu menemui Ishak untuk mengikat perjanjian karena raja tersebut telah menyaksikan sendiri bahwa Allah telah menyertai Ishak dan ia berjanji untuk tidak akan menggangu Ishak kembali.

Setelah membaca kisah ini, saya pun tersadar bahwa hidup sukses bukanlah berarti jalan akan selalu mulus. Tantangan akan datang silih berganti. Kerikil dan terjalnya kehidupan mungkin akan singgah  menghampiri kehidupan kita.

Tapi ketika diri kita berpusatkan Kristus  dan tetap setia dalam proses kehidupan yang harus dilalui serta tetap berpegang pada Firman Nya, itu merupakan kesuksesan yang sejati.

Ulangan 28:13 berbunyi:
Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan ekor,
Engkau akan tetap naik dan bukan turun.

Dan akhirnya saya mengerti arti ayat diatas ini.. dan mari saya lanjutkan penggalan kalimat berikutnya:
Apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini kaulalukan dengan setia.

Wow.. Berarti ini bukan janji sembarang janji. Berkat tersebut akan mengalir jika kita melakukannya dengan setia.

Sumber: Kejadian 26:1-35

[TIPS] Perencanaan Keuangan yang Alkitabiah

Salah satu tipuan setan yang paling jitu adalah pemikiran bahwa kebahagiaan ada di dalam hal-hal yang kita miliki. Melalui dusta ini, dia telah membuat berhala lembu emas dan ilah yang disebut materialisme. Seperti anjing menggonggong di tengah jalan, setan membujuk setiap orang yang lewat, “datanglah,jilatlah kakinya, beli, jual, dapatkan keuntungan, dan miliki, itu semua akan membuat anda bahagia.”

Saudaraku, meskipun kita telah diselamatkan, kita tidaklah bebas dari sasaran setan atau terlepas dari virus materialisme. Seperti suatu wabah, hal itu menjangkiti kita disetiap sudut: televisi, media cetak, baliho, etalase dan jalanan. Godaan materialisme ada di mana-mana dan berusaha masuk ke dalam hidup kita melalui pesan yang indah dan manis didengar.

Alkitab telah memperingatkan kita untuk waspada dan berjaga-jaga terhadap tipu muslihat setan (1 Pet. 1:13; 5:8). Mengapa? Karena, jika kita tidak berjaga-jaga, setan akan mengubah fokus kita dari melayani Tuhan secara pelan-pelan menjadi melayani iblis (1 Pet. 2:9).

Uang adalah perkara kecil (Lukas 16:10). Kenapa? Karena uang tidak bisa membeli dan memberi kebahagiaan. Uang tidak bisa memberikan hidup kekal atau makna hidup yang sejati (Yes. 55:1-3; Why. 3:17-18). Tetapi, tidak ada yang lebih memperlihatkan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap uang.

Yesus Kristus menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang memiliki kehidupan rohani yang sehat adalah memiliki sikap yang benar terhadap harta. Enambelas dari tigapuluh delapan perumpamaan Yesus berkaitan dengan uang. Satu dari sepuluh ayat dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan keuangan. Alkitab memiliki 500 ayat mengenai doa, kurang dari 500 ayat mengenai iman, tapi lebih dari 2,000 ayat mengenai uang. Uang merupakan masalah yang sangat penting karena sikap seseorang terhadapnya sangat menentukan seperti apa hubungannya dengan Tuhan, berkenaan dengan pemenuhan rencanaNya dalam hidup ini.

Petunjuk Mengenai Menabung
Dukungan Alkitab

  1. Tuhan mengarahkan Yusuf untuk menyimpan atau menabung untuk masa depan (Kej. 41:35).
  2. Menabung untuk masa depan menunjukan hikmat Tuhan dan dinyatakan ciptaan Tuhan lainnya (Ams. 21:20; 30:24-25; 6:6-8).
  3. Menabung untuk masa depan merupakan tanggung jawab pelayanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang dapat diperkirakan maupun yang darurat (1 Tim. 5:8; 2 Kor. 12:14, Ams 13:22).

Petunjuk Alkitab:

  1. Menjaga pandangan yang benar akan kepemilikan. Ingat! Semua kekayaan kita berasal dari Tuhan. Kita adalah pengelola, bukan pemilik (1 Taw. 29:11-16; Luk. 16:12).
  2. Menjaga pandangan yang tepat akan keamanan. Kita harus meletakan kepercayaan dalam Tuhan dan bukan pada kekayaan kita (1 Tim. 6:17).
  3. Hati-hati terhadap motivasi, prioritas, dan alasan yang tidak murni dan tidak Alkitabiah mengenai menabung seperti kekhawatiran dan menimbun karena ketidakamanan atau ketamakan (Mat. 6:25-33; Luk. 12:13-31).
  4. Keputusan mengenai masa depan harus dibawa dalam doa dan berserah pada kehendak Tuhan (Yak. 4:13-15).
  5. Memberi dari hasil tabungan atau investasi Anda (Luk.12:16-21; 1 Tim. 6:18-19; 1 Yoh. 3:17).
  6. Hindari investasi yang beresiko terlalu tinggi (spekulatif) atau menjadi kaya dengan cara instan dan tidak masuk akal (Ams. 21:5; 28:20, 22; 1 Tim. 6:9).
  7. Mengawasi prioritas. Menjadikan kerajaan Allah sebagai investasi nomor satu (Mat. 6:20, 33; Luk. 12:31; 1 Tim. 6:18-19).

Petunjuk Mengenai Pengeluaran

Kepuasan

Kita harus belajar untuk puas dengan apa yang kita punya (Fil. 4:11-13; 1 Tim. 6:6, 17-19; Ibr. 13:5). Saat kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, kita bebas dari ketamakan dan perbudakan materialisme. Ini artinya kebebasan mengikuti Tuhan adalah kebebasan mengusahakan nilai dan tujuanNya. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kepuasan? Kepuasan merupakan hasil dari memiliki harta sorgawi dan meletakan seluruh kekhawatirannya kepada Tuhan, Bapa Sorgawi kita, yang berdaulat (Mat. 6:19-33; 1 Pet. 5:6-7).

Godaan

Waspadalah terhadap godaan dan ajaran dunia (Rom. 12:1-2; 13:11-14; 1 Pet. 1:13-16; 5:8). Ada ratusan ajaran setiap hari yang menarik perhatian kita melalui televisi, radio, iklan, dan majalah—semua dibuat untuk mendorong kita membeli hal-hal yang tidak kita perlukan, dengan uang yang sebenarnya tidak kita punyai, untuk membuat kagum orang yang tidak kenal, dan untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu.

Mengevaluasi Pembelian Menurut Prinsip Alkitab

  1. Apakah kita membayar secara tunai ataukah pembelian itu membuat kita harus berhutang? (lihat petunjuk mengenai Kredit).
  2. Apakah kita memiliki damai sejahtera mengenai hal itu? (Rom. 14:23; Kol. 3:15) Kita perlu mengawasi kedenderungan kita untuk merasionalisasi—memberikan jawaban menipu pada diri sendiri merupakan hal yang buruk.
  3. Apakah itu suatu kebutuhan atau keinginan (ketamakan)? (1 Tim. 6:9; 1 Yoh. 2:15). Apakah itu berguna bagi keluarga, pertumbuhan rohani, kesehatan, pelayanan, nama Tuhan, dan meningkatkan kasih kita pada Tuhan atau sebaliknya menghalangi semua itu? (1 Tim. 3:4: 5:8; 1 Kor. 6:12).
  4. Apakah kita hidup dibawa standart atau di atas standart? Apakah gaya hidup yang kita terapkan adalah cukup atau boros? Apakah kita perlu mengurangi pengeluaran kita dengan mengurangi standar kepuasan? (Mat. 6:33; Luk. 12:15, 23; Ams. 15:16-17; 16:8; Pengkh. 5:10-11).

Petunjuk Mengenai Pinjam-Meminjam

Prinsip Dasar

  1. Alkitab mengajarkan memberi pinjaman daripada meminjam karena itu menghasilkan kebebasan dan pelayanan yang bijak (Ul. 15:5-6).
  2. Peminjaman atau hutang yang tidak bijak bisa membuat kita diperbudak (Ams. 22:7).
  3. Gunakan kredit sebijak mungkin dan hindari kredit sebisa mungkin. Walau tidak dihalangi oleh Alkitab, kredit pada umumnya dinyatakan dalam bentuk negatif. Roma 13:8 sering digunakan sebagai larangan untuk meminjam/berhutang, tapi ayat di atas tidak secara langsung melarang penggunaan kredit atau berhutang. Ayat tersebut jangan terlepas dari ayat-ayat sebelumnya, yan mana mengajarkan pentingnya seseorang membayar hutangnya baik secara fisik atau rohani diwaktu harus membayar.
  4. Mengenai kredit ada 2 alternatif dasar:(b) Tabung sekarang dan beli kemudian dengan tunai dan simpan bunganya.
  5. (a) Beli sekarang dengan kredit dan bayar bersama dengan bunga.

Jaga Pinjaman Sekecil Mungkin

  1. Bunga pinjaman menambah biaya hidup dan mengurangi kemampuan kita untuk melayani dengan baik. Jika kita harus meminjam, kita harus mencari bunga yang rendah dan jangka pendek.
  2. Kredit bisa berbahaya karena itu bisa memperbudak orang kepada kreditor dan keinginan mereka daripada keinginan Tuhan. Itu membuat dorongan untuk terus membeli lebih kuat. Sistem dunia sangat tergantung pada pembelian sebagai penenang kebosanan dan frustasi hidup.
  3. Kredit bisa menjadi pengganti kepercayaan pada Tuhan dan mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menunggu waktu Tuhan. Kita menggunakan itu untuk mengurangi ketergantungan pada Tuhan. Kenapa? Karena kita sering takut Dia tidak memberikan apa yang kita inginkan saat kita menginginkannya (Ps. 37:7-9, 34; 147:11; Matt. 6:30-34; Fil. 4:19).
  4. Kredit mengurangi kemampuan kita memberi pada Tuhan dan mereka yang membutuhkan.
  5. Penggunaan kredit sering merupakan kegagalan untuk puas dengan apa yang telah kita miliki (dosa ketidakpuasan) (Fil. 4:11; 1 Tim. 6:6-8; Ibr. 13:5). Orang yang materialistis tidak pernah puas, tapi yang mengandalkan Tuhan belajar untuk mencukupkan diri.

Apa yang ‘Jangan’ dalam Meminjam

  1. Jangan membeli sesuatu dengan hutang jika itu akan menghancurkan kebebasan keuangan kita.
  2. Jangan berhutang sekarang atas alasan masa depan (seperti kenaikan harga atau penjualan yang lebih baik). Ini menyalahgunakan Tuhan dan kedaulatanNya.
  3. Jangan berhutang untuk rumah sebelum anda memiliki sumber pendapatan (Ams. 24:27).
  4. Jangan untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran sehari-hari, atau untuk kesenangan.
  5. Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang nilainya berkurang dengan cepat, kecuali jangka waktunya sangat pendek (yaitu, 30-90 hari).
  6. Mengenai barang benilai, seperti rumah atau investasi bisnis, jangan meminjam di luar kemampuan anda.
  7. Jangan mengijinkan hutang (tidak termasuk gadai) lebih dari 20 % take-home pay. Ambil yang 10 persen atau kurang.
  8. Jangan ijinkan pembayaran gadai (termasuk insuransi dan pajak) lebih dari 25 atau 30 persen take-home pay.

Pertanyaan yang Diperlukan Sebelum Meminjam

  1. Apakah saya benar-benar membutuhkannya?
  2. Apakah saya telah berdoa meminta Tuhan untuk itu dan menunggu cukup lama untuk dijawab olehNya?
  3. Apakah saya tidak sabar dan ingin memuaskan kesenangan secepatnya?
  4. Apakah Tuhan menguji iman, nilai, motivasi saya, dll.?
  5. Apakah saya tidak membelanjakan uang yang Tuhan sediakan untuk barang itu dengan baik atau melanggar prinsip keuangan Tuhan?
  6. Apakah saya bersalah karena:
    • Pelit: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Ams. 11:24; 11:25-27).
    • Terburu-buru: “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman” (Prov. 28:20).
    • Malas: “maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata” (Prov. 24:34).

Petunjuk dalam Memberi

Tuhan Mengharapkan Kita untuk Memberi

  1. Melalui Karya AnugrahNya: Melalui hubungan dengan Dia, memberi merupakan hasil karya anugrah Tuhan dalam hidup sehingga itu menghasilkan komitmen hidup seseorang pada Tuhan dengan pemberian yang mengalir keluar dari komitmen itu (2 Kor. 8:1-2, 6-7; 9:9-11).
  2. Dalam Iman: Dia telah berjanji untuk mencukupi seluruh kebutuhan kita; pemberian kita tidak akan menbuat kita kekurangan (2 Kor. 9:7; Fil. 4:19).
  3. Dengan Memiliki Tujuan: Kita memberi dengan perencanaan yang seksama dan dibawa dalam doa. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya” (2 Kor. 9:7).
  4. Secara Teratur: “Dihari pertama setiap minggu” menolong untuk mendorong ketekunan dan disiplin dalam memberi. Ini menciptakan konsistensi dan keteraturan yang menyatakan niat kedalam tindakan (1 Kor. 16:2).
  5. Secara Pribadi: “Biarlah setiap kamu” memenuhi kebutuhan setiap orang percaya dengan membuat pemberian sebagai tanggung jawab pribadi yang diberikan Tuhan (1 Kor. 16:2).
  6. Secara Sistematis: “sisihkan dan simpan” menimbulkan kebutuhan untuk memiliki metode atau system dimana uang untuk pekerjaan Tuhan secara khusus disisihkan, disimpan untuk diberikan, sehingga tidak digunakan untuk hal lain (1 Kor. 16:2).
  7. Secara Proporsional: Dalam Perjanjian Baru, menyisihkan sebagian untuk diberikan (sebagai persepuluhan) telah digantikan oleh prinsip anugrah pemberian, secara sukarela, bertujuan, dan proporsional. Standar baru sekarang ini adalah “sesuai berkatNya” (1 Kor. 16:2), “memberi menurut kemampuan mereka” (2 Kor. 8:3), “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.…” (cf. 2 Kor. 8:12-15, Mark 12:41-44), dan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan” (2 Kor. 9:7).

Kepada Siapa Kita Harus Memberi?

  1. Gereja Lokal. “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6; cf. juga 1 Tim. 5:17-18). Jika gereja local akan membentuk pusat pelayanan keluar, maka sudah sewajarnya jika itu menjadi prioritas pertama anda dalam memberi.
  2. Organisasi lain dan Individu. Ini termasuk misi, kelompok para-church dan individu yang terlibat dalam pelayanan ini (3 John 5-8).
  3. Sesama Orang Percaya yang Membutuhkan. Mereka yang tidak mampu menyokong diri sendiri atau yang menghadapi masalah serius harus ditolong sebisa mungkin. Mereka yang menolak bekerja jangan didukung (1 John 3:17; Jam. 2:15-16; Gal. 6:10; Heb. 10:33-34; 13:1-3 with 2 Thess. 3:6-10).
  4. Orang Belum Percaya yang Membutuhkan. Prioritas pertama kita adalah mereka yang seiman, tapi kita juga menjangkau orang lain yang membutuhkan sebisa mungkin (Gal. 6:10).

Pemberian yang Proporsional

Apa artinya memberi secara proporsional? Bagaimana itu menentukan berapa banyak yang harus diberi? Sangat mudah menentukan sepuluh persen dari seluruh jumlah pendapatan kita sebulan. Tetapi berapa banyak pemberian proposional itu? Apakah “sekehendak hatinya,” atau “sebanyak dia diberi,” atau “semakmurnya dia,” atau “jika ada kemauan maka baiklah memberi menurut apa yang didapat …” Sebanyak apa itu?

  1. Itu bukan suatu jumlah tertentu, atau persentase tertentu, tapi suatu proporsi didasarkan atas apa yang dimiliki seseorang, kebutuhan seseorang, dan kebutuhan orang lain, termasuk pekerjaan Kristus atau pelayanan gereja lokal.
  2. Mereka yang memiliki sedikit juga memberi semampu mereka (2 Kor. 8:2-3).
  3. Mereka yang tidak memiliki apapun, jika ada kerelaan, tidak diharapkan memberi apapun (2 Kor. 8:12).
  4. Mereka yang kurang (kebutuhan pokok) akan menerima dari mereka yang lebih sehingga ada keseimbangan (2 Kor. 8:13-15). Ini bukan socialism atau komunisme yang memaksa dan mengusahakan adanya kesamaan diluar keragaman lingkungan dalam bekerja, bakat, dan insentif pribadi (cf. 2 Tim. 6:17f).
  5. Tuhan tidak meminta mereka yang memiliki banyak untuk menjadi miskin atau membebadi mereka yang kaya (2 Kor. 8:13). Keseimbangan yang dinyatakan dalam pemberian yang proporsional ada 2 sisi: (a) Meliputi bantuan untuk menolong orang yang membutuhkan sampai mereka mampu secara keuangan melalui bekerja (Eph. 4:28; 2 Thess. 3:10-15). Kita tidak memberi sehingga orang lain bisa hidup enak atau memiliki standar hidup yang sama dengan semua orang. (b) Ini menciptakan keseimbangan dalam pengertian bahwa mereka yang kurang memberi sesuai kemampuan demikian juga yang mampu sesuai dengan kemampuannya.
  6. Mereka yang berkelimpahan harus kaya dalam pekerjaan baik, mereka harus menggunakan kelimpahannya dengan bebas untuk Kristus (2 Cor. 8:14; 2 Tim. 5:17-18).
  7. Kemakmuran yang meningkat janganlah menghasilkan standar hidup yang terus meninggi, atau pengeluaran yang percuma,tapi peningkatan dalam memberi, tidak hanya jumlah tapi dalam persentase. Jika orang percaya masa kini berkomitmen pada pemberian yang proporsional, banyak orang yang akan memberi lebih dari sepuluh persen. Statistik menunjukan, sebagian besar orang percaya memberi kurang dari 3-5 persen.

Definisi Pemberian yang Proporsional

Pemberian yang proporsional adalah pemberian yang sesuai dengan berkat Tuhan, sebagai pelayan yang ingin menginvestasikan hidupnya dalam kekayaan surgawi. Pemberian yang proprosional tidak berarti memberi lebih, tapi memberi sebagian besar dari pendapatan seseorang—bagian terbesar diberikan untuk pekerjaan Tuhan.

Dalam Pemberian yang Proporsional:

  1. MOTIF KITA dalam memberi adalah berkat Tuhan, untuk meningkatkan buah dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan (2 Kor. 9:8-15).
  2. UKURAN KITA dalam memberi adalah berkat material dari Tuhan (1 Kor. 16:2).

Ilustrasi mengenai Pemberian yang Proporsional:

Orang percaya A memiliki pendapatan $20,000 setahun dan dia memberi sepuluh persen, yaitu $2,000. Orang percaya B memiliki pendapatan $50,000 setahun dan memberikan sepuluh persen, yaitu $5,000. Orang percaya B telah memberi $3,000 lebih banyak dalam setahu tapi ini tidak proporsional karena Orang percaya A hanya memiliki $18,000 untuk dihidupi dan Orang percaya B masih memiliki $45,000, dua kali lebih banyak. Orang percaya B bisa memberi 20 persen ($10,000) dan masih memiliki $40,000 tetap dua kali lebih banyak dari Orang percaya A. Orang percaya B tidak hanya harus memberi lebih banyak tapi secara proporsi juga harus lebih banyak.

Janji Tuhan untuk Pemberi yang Murah Hati

Lukas 16:10-11: Umumnya, Tuhan tidak mempercayakan kekayaan yang lebih banyak pada kita sampai kita terbukti setia dengan apa yang kita punya sekarang.

2 Korintus 9:8-11: Pemberian kita tidak akan membuat kita kekurangan; Tuhan tidak saja menyediakan apa yang telah kita berikan, tapi dia akan meningkatkan kemampuan kita dalam memberi saat kita memberi dengan limpah. Tujuannya disini bukan untuk meningkatkan kekayaan pribadi, tapi pemberian.

Tantangan Alkitab Mengenai Kekayaan Duniawi

Dimana Harta Kita?

Prinsip Dasar: Apa yang kita kumpulkan menentukan cara pandang kita akan nilai hidup (Mat. 6:22-23).

Pandangan Alkitab: Harta kita ada di sorga (Mat. 6:19-20).

Alasan Alkitab:

  1. Harta kita permanent di sorga (Mat. 6:20; 1 Pet. 1:4).
  2. Harta dibumi itu sementara dan bisa hilang. Kita tidak bisa membawa harta dunia kita kesorga (Luk. 12:20-21; 1 Tim. 6:7).
  3. Harta dunia kita tidak memuaskan karena tidak bisa membeli kebahagiaan sejati (Isa. 55:1-3; Luk. 12:15, 23; Pengkhotbah. 5:10).
  4. Harta dunia kita tidak bisa memperpanjang hidup atau memberikan keamanan (Luk. 12:16-21).
  5. Harta kita menentukan prioritas kita. Tanpa harta yang benar, kita akan mengejar hal yang sala dan menyia-nyiakan hidup kita (Matt. 6:21; Luk. 12:34; 1 Tim. 6:9-10; Luke 19:23-26).
  6. Harta terbesar kita adalah kesalehan, yaitu hidup yang penuh ucapan syukur (1 Tim. 6:6; Ibr. 13:5; Fil. 4:11-12; Ams. 15:17; 16:8; 17:1).

Penjelasan Alkitab: Harta sorgawi terdiri dari mahkota, upah, dan tanggung jawab yang diberikan pada orang percaya dikursi penghakiman Kristus bagi pelayan yang setia (Luk. 19:16-19; 1 Kor. 3:12-15; 9:25; 1 Tes. 2:19; 2 Tim. 4:8). Harta terutama adalah Tuhan dimuliakan (1 Pet. 4:11; Why. 4:9-11).

Siapa Tuan Kita ?

Seorang pelayan tidak bisa melayani dua tuan. Kita tidak bisa melayani Tuhan sekaligus melayani Mamon (materialisme) (Luk. 16:1-13; Mat. 6:24).

Alasan Alkitab: Tidak mungkin melayani dua tuan disaat yang sama. “ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk. 16:13).

Pandangan Alkitab:

  1. Lukas 16:1-2: Hidup adalah pelayanan dan kita adalah pelayan Tuhan yang bertanggung jawab atas pelayanan yang dipercayakan pada kita. Berhenti berpikir seperti pemilik. Mulai berpikir seperti manajer/penatalayanan/pengelola.
  2. Lukas 16:1, 11-12: Kita memboroskan milik Tuhan dalam hidup kita atau menginvestasikannya dengan bijak bagi kemuliaanNya?
  3. Lukas 16:10: Uang, dalam nilai sejatinya, merupakan hal “kecil”, tapi, kesetiaan dalam hal kecil (uang) merupakan tanda kesetiaan kita dalam hal besar (nilai kekal).
  4. Lukas 16:11: Penggunaan uang adalah ujian dari kesetiaan kita.
  5. Lukas 16:11: Uang tidak menunjukan kekayaan yang sebenarnya.
  6. Lukas 16:12: Uang harus digunakan secara bijak dan setia sebagai bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan.
  7. Lukas 16:12: Uang dan pendapatan, jika kita tidak hati-hati, bisa menjadi tuhan/berhala kita.

Tantangan Alkitab:

  1. Apakah saya hamba uang dan harta duniawi? Apakah mungkin saya tidak mengetahuinya? Kita harus memilih antara melayani uang atau Tuhan!
  2. Apakah saya mengorbankan kualitas seperti Kristus dan tanggung jawab dalam mengejar harta dunia? (a) hati nurani yang murni;
    (b) kejujuran, moral;
    (c) Persahabatan;
    (d) Kehidupan keluarga (istri, suami, anak, saudara);
    (e) Reputasi;
    (f) Kemuliaan Tuhan, dll.
  3. Apakah saya lebih peduli pada harta dunia dan masalah keuangan daripada hubungan saya dengan Tuhan dan kebenaran-Nya?
    (a) Apakah prioritas saya;
    (b) Bagaimana dan di mana saya menghabiskan waktu;
    (c) Apa yang paling saya pikirkan— apakah itu uang atau hubungan dengan Tuhan, atau bagaimana mengembangkan kehidupan iman saya?
  4. Apakah saya mencari uang dan harta dunia (prestise, kuasa, kedudukan, kesenangan, kepemilikan, dll.) Semua itu bisa Tuhan berikan?
    (a) Kebahagiaan, sukacita sejati;
    (b) Kepuasan;
    (c) Damai dalam Pikiran;
    (d) Keamanan;
    (e) Tujuan dan arti hidup.

Jika jawaban anda ya, maka uang telah menjadi tuhan atas dirimu! Renungkanlah!!!

Kesimpulan

Setelah mempelajari prinsip-prinsip ini, tanyakan hal ini: Apakah saya mau memberi diri pada konsep ini sebagai cara hidup untuk menjadi anak Tuhan atau pelayan Tuhan yang baik? Biarlah Tuhan menjauhkan kita dari berhala patung lembu emas materialisme.

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Petrus. 1:17-19).

Alkitombuku & Mr. J. Hampton Keathley, III Th.M.

Benarkah Alkitab Bertentangan dengan Hidup Sehari-hari? Perspektif dari Ayub, Amsal, dan Pengkotbah

By: Louisa Veronica Hartono – DTS Grogol

Alam bawah sadar kita cenderung berpikir bahwa dunia/alam spiritual (ya elaaah kaya di sinetron aja yak), yang diwakili dalam gereja, Alkitab dan hari Minggu, terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari dari Senin hingga Sabtu, utamanya yang meliputi pekerjaan dan dunia bisnis. Sehingga kita jadi orang saleh hari Minggu, tapi balik jadi orang salah hari Senin sampai Sabtunya.

Nah, dalam 1 bulan terakhir ini saya baru saja menyelesaikan kitab Ayub, Amsal, dan Pengkotbah. Membaca 3 kitab tersebut membuat saya berpikir mengapa Alkitab berbeda dari buku-buku lain, dan mengapa Alkitab sering “diklaim” sebagai buku yang terus laris sepanjang masa. Kenapa? Karena prinsip-prinsipnya sangat relevan dengan kehidupan manusia sepanjang jaman.

Ada dua hal yang sangat saya sukai dari Alkitab. Pertama, dari Alkitab kita belajar bahwa sisi rohani/spiritual sama sekali tidak terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari. Alkitab tidak “bermusuhan” atau mengajarkan kita untuk memisahkan diri (detachment) dari persoalan-persoalan dunia, seperti dalam berbisnis, bergaul dengan orang lain, mencari pasangan hidup, dan berumah tangga.

Gimana taunya? Kitab Amsal mengajarkan hal ini. Seluruh kitab tersebut berisi petuah-petuah, nasihat, ajaran dan anjuran praktis untuk berbuat baik. Tapi yang sangat mengena bagi saya adalah, kitab Amsal menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mengejar HIKMAT. Apa itu hikmat? Definisi dasar dari “Hikmat” atau wisdom adalah penggunaan suatu pengetahuan dengan benar. Lawan dari hikmat adalah kebodohan atau kebebalan (foolishness, folly). Amsal bahkan mempersonifikasikan hikmat sebagai seseorang yang bijak dan berpengetahuan luas yang berdiri di pinggir jalan dan memanggil-manggil orang untuk datang dan belajar darinya. Hikmat dengan gencar mempromosikan dirinya sendiri. Ia mengenalkan dirinya sebagai “pribadi” kesayangan Tuhan, yang telah ada sebelum bumi diciptakan dan bermain-main di pangkuan-Nya (Amsal 8:22-36). Ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada kekayaan sebanyak apapun, dan bahwa orang yang belajar darinya akan mendapat keuntungan yang melebihi emas dan perak. Ia menjanjikan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari dan mengejar dirinya akan mendapat banyak keuntungan, serta dilindungi dari jalan orang fasik, kehancuran, kerugian, dan sengsara-sengsara dalam hidup (Amsal 2-3). Pendek kata, hikmat menyimpulkan bahwa siapa yang mendapatkan dan mencintai dirinya, akan mendapat hidup dan Tuhan berkenan kepada dia (Amsal 8:35).

Saat saya membaca kitab Amsal, saya mendapat impresi bahwa Tuhan, melalui personifikasi Sang Hikmat, sangat-sangat menekankan pentingnya mengejar pengetahuan. Ia tidak ingin kita menjadi orang bodoh, bebal, atau tolol. Justru sebaliknya, yang namanya kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan kemiskinan itu sangat ditentang di Kitab Amsal ini. Namun jangan lantas diartikan bahwa Alkitab mengajarkan kita untuk menuhankan pengetahuan. Sebaliknya, Alkitab berulang kali mengatakan bahwa “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”! (Amsal 1:7).

Dulu saya suka merasa bahwa kalau ikut seminar-seminar tentang bisnis itu kita berdosa, karena kita kurang beriman. Tapi setelah membaca kitab Amsal, pengertian saya diperbarui dan saya tidak merasa tertuduh lagi. Boleh-boleh saja kita mengikuti seminar-seminar bisnis dan pengembangan diri lainnya, asalkan dengan motivasi dan pengertian yang benar, yaitu dilandasi rasa takut akan Tuhan. Nah, disini harus ditekankan juga bahwa rasa takut akan Tuhan bukan rasa takut yang gemetar gitu atau ketakutan, melainkan lebih ke arah penghormatan dan kekaguman yang dalam terhadap Dia (see, untuk bisa mengerti ini perlu hikmat juga lho!).

Rasa takut akan Tuhan itulah yang menjaga kita untuk keep on track. Segala pengetahuan yang didapat bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan digunakan untuk kebaikan sesama dan memperluas kerajaan Allah. Dirinya sendiri juga akan ikut diuntungkan dengan pengetahuan, ilmu, atau pengertian yang didapat, namun fokusnya beda. Diri sendiri bukanlah fokus utama dalam mengejar ilmu itu, melainkan Tuhan dan orang lainlah yang menjadi fokusnya. Ilmu yang didapat digunakan sebagai “senjata” dalam memperlengkapi kita untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di tengah-tengah dunia ini. Tujuannya? Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang! Hal ini berbeda dengan orang-orang pintar tapi atheis yang terjebak dengan akal dan logikanya sendiri, yang mendewakan ilmu pengetahuan lebih dari segala sesuatu, sampai melupakan Tuhan.

Hal kedua yang saya kagumi dari Alkitab, Alkitab adalah kitab yang sangat manusiawi, dekat dengan kesedihan, pergumulan, dan pertanyaan-pertanyaan manusia yang dalam seperti penderitaan, kehilangan, dan hal-hal ga enak lainnya yang dialami. Hal ini terlihat dari kitab Pengkotbah dan Ayub.

Ngomong-ngomong tentang Pengkotbah, ada bagian yang menarik di sini. Kitab Pengkotbah seolah merupakan tanggapan – bahkan sanggahan – terhadap kitab Amsal. Bila diibaratkan dua orang yang berbicara, Amsal ibarat orang yang berkata, “Berbuat baiklah, maka engkau akan hidup aman dan sejahtera!” sedangkan Pengkotbah menyanggahnya, “Sangkamu hidup sesimpel dan seadil itu? Tidakkah kau lihat bahwa banyak orang yang telah berbuat baik namun justru hidup sengsara? Sebaliknya, orang fasik malah hidup enak! Hidup ini sia-sia, sia-sia.” (Pengkotbah 1:2).

Pendek kata, Pengkotbah menunjuk pada realitas hidup yang ada, bahwa hidup ini tidak selalu ideal. Ini adalah kitab yang sangat realistis. Manusia bisa mengusahakan yang terbaik, namun pada dasarnya dia sama sekali tidak berkuasa atas dirinya. Manusia bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan namun lenyap, bagaikan embun di pagi hari yang segera ilang, dan bagaikan rumput liar yang cepat berlalu. Tidak ada gunanya menjadi orang yang sangat pintar atau berpengetahuan, bahkan kitab ini seolah mengejek hikmat dan apa gunanya orang memperoleh banyak hikmat (Peng 1:12-18). Kitab ini bernada pesimistis. Ia mengatakan agar kita menikmati hidup dan berkat yang dikaruniakan Allah, untuk bersukacita, untuk hidup pada saat ini dan tidak khawatir akan masa depan. Tetaplah takut akan Allah karena Dia akan menghakimi setiap perbuatan kita kelak (Peng 12:14).

Bagaimana dengan kitab Ayub? Nah, meskipun letaknya sebelum Amsal, Ayub adalah contoh nyata dari Pengkotbah: orang yang saleh, tapi diijinkan Tuhan hidup menderita. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya pasti tidak asing dengan kitab dan kisah Ayub. Apa yang Pengkotbah katakan seolah dikonfirmasi pada kitab ini, bahwa hidup tidaklah sesimpel aturan emas: berbuat baiklah maka kamu akan menikmati yang baik pula. Namun kisah Ayub juga mengajarkan bahwa Allah jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar daripada segala sesuatu dan prinsip-prinsip di dunia ini. Kita mungkin telah berbuat baik sepanjang hidup kita, tapi kita masih juga menderita, atau Allah ijinkan kita mengalami ujian yang begitu berat. Kisah Ayub juga mengajarkan bahwa justru melalui penderitaan, Allah bisa bekerja. Kuasa-Nya tidak dibatasi oleh penderitaan atau hal-hal buruk di dunia. Malah Ia bisa membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan mengalami Dia dengan cara yang lebih personal, yang tidak bisa kita dapatkan apabila keadaan berjalan baik-baik saja.

Akhir kata, dua alasan itu membuat saya menyimpulkan bahwa Tuhan, melalui kitab-Nya, bukanlah Tuhan yang jauh dari kehidupan kita. Ia tidak meminta kita melepaskan diri dari dunia ini. Ia adalah Allah yang peduli dan berempati akan apa yang kita alami. So, terbukti kan bahwa Alkitab itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? 😉  No wonder it’s called The Book of Life.

Referensi:

Youtube – The Bible Project videos:

  1. “Wisdom Literature: Proverbs, Ecclesiastes, and Job”
  2. “Proverb”
  3. “Ecclesiastes”
  4. “Job”

Why Being Successful at Young Age Is Not Enough?

By: Meiwati – DTS Serpong

Setiap orang di dunia terutama kita sebagai anak muda pasti ingin mencapai yang namanya kesuksesan. Konsep kesuksesan bahkan telah ditanamkan ke alam bawah sadar kita dari keluarga dan dari institusi pendidikan tempat kita bersekolah. Oleh sebab itulah saat kita telah menyelesaikan bangku pendidikan, biasanya kita sebagai anak muda pasti mengejar kesuksesan dan setiap kita pastinya mau dong untuk sukses di usia muda (di bawah 35 tahun). Definisi sukses antara setiap orang pastinya berbeda-beda, tetapi pada umumnya sukses identik dengan memiliki bisnis, karir, atau penghasilan yang bagus (kekayaan).

Ternyata sahabat terdapat satu kebenaran lainnya tentang SUKSES. Sebagai anak muda kita perlu menyadari bahwa menjadi sukses saja tidaklah cukup. Tuhan tidak memanggil kita sebagai anak muda untuk menjadi sukses saja tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi sukses dan signifikan (Success & Significance). Kesuksesan adalah sesuatu yang Tuhan pasti berikan kepada kita sebagai anakNya tetapi kesuksesan kita perlu disertai dengan menjadi signifikan. Signifikan yang dimaksud di sini adalah apa yang kita lakukan haruslah sesuatu yang berarti atau memberi dampak bukan hanya bagi diri kita tetapi bagi orang lain.

Pict 2

Untuk memudahkan sahabat mengingat hal ini, saya menyingkat Success & Significance menjadi huruf double S (SS) atau angka double 5 (55). Konsep Success & Significance, dapat diilustrasikan dengan ilustrasi seorang pendaki gunung. Seorang pendaki gunung yang berhasil adalah seorang yang bukan saja berhasil mencapai puncak gunung (success) tapi juga adalah seorang yang berhasil sampai ke base camp lagi dengan selamat (significance). Ketika seorang pendaki gunung hanya berhasil mencapai puncak gunung tapi tidak berhasil sampai ke base camp kembali maka kesuksesan yang berhasil dicapainya tidaklah menjadi hal yang penting.

Sahabat kita tidak perlu menunggu sampai kita menjadi sukses baru memikirkan signifikansi apa yang ingin kita lakukan tetapi sekaranglah waktunya untuk kita merencanakan signifikansi apa yang ingin kita berikan dalam pekerjaan kita, dalam bisnis, dalam pelayanan, atau dalam hal apapun yang Tuhan percayakan. Sebagai tambahan informasi sahabat, biasanya kata signifikansi barulah dipikirkan manusia saat seseorang memasuki tahap generatifitas vs stagnasi seperti yang dikemukakan oleh Erik Erikson yaitu saat seseorang berusia 50 tahun (middle adult). Tetapi karena kita mengetahui kebenaran dan isi hati Tuhan bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan kita menjadi sukses tetapi DIA mau kita menetapkan suatu tujuan untuk menjadi pribadi yang signifikan (memberi dampak) bagi orang lain. Saat kita memutuskan untuk melakukakannya di usia kita yang masih muda ini, itulah yang dinamakan SUKSES MUDA. (MWG)

Pemimpin Yang Melayani

By Kevin – DTS Surabaya

Matius 20:26-28

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Mengikut Tuhan Yesus bukanlah pekerjaan yang mudah.Banyak sekali hambatan dan godaan yang akan kita lalui.Namun,kita harus memiliki mindset bahwa cobaan ini akan melatih karakter dan integritas kita karena hanya dengan begitulah kita benar benar bisa dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Untuk menjadi pemimpin yang baik kita harus menjadi seorang servant leader.Apa itu servant leader? Servant leader ialah suatu konsep kepemimpinan dimana pemimpin hidup untuk melayani bukan sebaliknya.Seorang servant leader hidup bukan untuk dirinya sendiri namun untuk melayani,menginspirasi dan menjadi teladan bagi orang lain.Sebagai contoh mari kita lihat Yesus Kristus sendiri.Semasa hidupnya Ia menunjukan banyak karakteristik yang memenuhi sifat seorang servant leader yaitu: 

  1. Berfokus kepada melayani orang lain
  2. Membentuk pemimpin pemimpin baru
  3. Mendengarkan
  4. Berempati

Inti daripada menjadi servant leader ialah supaya kita bersama sama bisa melayani bagi pembangunan tubuh kristus (Efesus 4:12)

Sering kali dalam hidup kita terlalu fokus kepada apa yang kita mau,apa yang enak untuk kita sendiri sehingga kita bahkan lupa bahwa kita itu hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain.Padahal bila kita mau mengikut Yesus kita harus menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan mengedepankan kebutuhan orang lain dibanding keinginan diri sendiri.

Bila kita melihat tokoh tokoh seperti Nelson Mandela, Martin Luther King, Ahok,dll kita bisa melihat bahwa mereka bekerja demi orang lain supaya apa yang mereka perbuat bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di sini kita bisa belajar bahwa memimpin itu bukan hanya memberi perintah, mengatur bawahan, atau berkuasa saja namun juga melayani orang lain. Nah, apakah kita sudah menjadi seorang servant leader baik itu dalam hal kecil maupun hal besar? Mari kita renungkan.

Miskomunikasi atau Kepahitan?

By: Rinardi (Grogol)

Matius 12:25-28

27 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul…

Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Kita sering mendengar Beelzebul atau Beelzebub atau Beel-Zebub ( Hebrew: בְְבְז ַלַב ב) diartikan sebagai penghulu iblis, tapi ternyata jika diartikan dari bahasa aslinya berarti “lord of the flies” alias raja lalat. Di dalam perumpamaan Yesus Beelzebul dikaitkan dengan spirit perpecahan. Terus apa hubungannya si raja lalat dengan perpecahan ya?

Kalau kita pelajari ternyata lalat selain suka banget sama tempat sampah yang kotor dan bangkai, lalat juga suka banget sama yang namanya borok / luka yang menganga sebagai media dia untuk berkembang biak. Makannya ada produk namanya hansaplast kan buat supaya luka ga jadi borok.

Nah tidak hanya tubuh yang bisa terluka, tapi secara roh dan jiwa kitapun bisa mengalami namanya terluka dan sayangnya luka itu ga bisa keliatan dari luar kecuali ada keterbukaan. Menariknya si lalat (iblis) demen banget sama namanya luka yang ga ditutup! Dia akan buat luka itu menjadi borok dan media dia untuk bisa bekerja sehingga objek lama-lama menjadi MATI & MEMBUSUK!

Sadarkah kita bahwa ketika hati kita terluka maka itu akan menjadi pintu gerbang kehancuran hidup kita jika tidak dibereskan? Seringkali kita berpikir bahwa masalah hanya pada miss communication. Padalah miskomunikasi bukanlah akar dari rusaknya hubungan kita dengan sesama. Tapi akar dari kerusakan hubungan adalah luka kepahitan yang TIDAK DIBERESKAN.

Seringkali kita berusaha begitu keras untuk memperbaiki cara komunikasi kita kepada orang yang padanya kita menyimpan kepahitan dan seringkali ga berhasil kan?

Apa sih kunci supaya sembuh? Check this out  >>>

Ibrani 4:16

Sepahit apapun hati kita saat ini mari datang terlebih dulu ke takhta kasih karunia Tuhan untuk disembuhkan baru kemudian bereskan konflik dengan manusianya

So jika hati kita mulai ada “lecet” luka hati atau bahkan “borok” kepahitan udah bernanah dengan partner bisnis, rekan kerja (atasan or bawahan), rekan pelayanan atau bahkan mungkin keluarga kita, mari dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia yang menyembuhkan dan memampukan kita untuk mengasihi sama seperti Tuhan mengasihi.

Di Saat Badai Bergelora, ku Akan Tenang Bersama-Mu

By: Yuliana (Sunter)

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah hampir sembilan bulan saya menjalani hidup yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, mimpi pun tak pernah..

Setelah pemakaman selesai, perasaan kehilangan dan sedih begitu mendalam, mendadak  rumah menjadi sepi, hati menjadi kosong, yang ada hanya airmata yg tak henti mengalir.. Tiada lagi tempat bercerita dan berbagi..

Sedih teramat sedih, setiap sudut rumah mengingatkan banyak kenangan tentang dia. Sulit untuk berpikir apa yg harus dilakukan ke depan. Semua terasa hampa. Badai itu menghempaskan pilu hingga ke dasar laut.

Saya berusaha tegar dan kuat demi anak-anak tetapi kehilangan dalam sekejap membuat saya hancur hati dan terbawa arus lautan airmata setiap hari. Saya tau Tuhan itu baik dan rencanaNya selalu indah namun saat itu benar-benar sulit bagi saya untuk mengerti rancanganNya. Bersyukur tidak sampai terlintas pikiran untuk menyalahkan Tuhan atau mempertanyakan  mengapa ini terjadi pada kami. Saya ikhlas menerima semuanya. Ketidaksiapan menghadapi kesendirian yang membuat saya terus menangis karena biasanya semua dilakukan bersama-sama dan harta keluarga sangat kami jaga. “Apakah saya akan kuat menghadapinya seorang diri?” Pertanyaan ini terus berputar-putar di kepala.

Meskipun sedemikian hancurnya hati, saya berusaha tidak menunjukkan di depan anak-anak, saya tidak ingin mereka ikut tenggelam dalam duka yang berlarut. Mereka harus tetap semangat menjalani hidup dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Setiap pagi saya melihat anakanak tetap membaca firman Tuhan dan berdoa, tidak pernah absen sehari pun. Saya terharu melihat ketaatan mereka. Inilah warisan yang ditinggalkan Papinya.

Hingga suatu malam memasuki bulan kedua, saya kumpulkan anak-anak kami berdoa bergandengan tangan bersama. Kami semua menangis, kami kangen Papi. Kami sungguh butuh kekuatan dari Tuhan untuk melalui masa-masa berkabung ini. Kami perlu hikmat Tuhan menjalani hari-hari mendatang. Tidak ada tempat kami bersandar kecuali Tuhan. Lepas dan lega sekali malam itu.. rasanya puas menangis di bawah kaki Tuhan.

Saya sadar tidak mungkin sedih terus menerus. Saya harus bangkit, saya harus tegar sebagai kepala keluarga tunggal. Jika Tuhan ijinkan terjadi pasti Tuhan akan beri kekuatan untuk menghadapinya. Filipi 4: 13 saya imani dan perkatakan. Disitulah semangat saya timbul kembali bak matahari diufuk timur. Kami kehilangan Papi tercinta tetapi kami tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Dia pasti menyertai kami dalam setiap musim dan kami bertiga harus bahu membahu serta harus tetap bahagia baik dalam suka maupun duka. Dengan segenap tenaga saya kumpulkan sisa-sisa semangat yang ada menjadi semangat baru, saya mulai perincikan apa yg harus saya lakukan kedepan untuk menata hidup saya yang baru.

Sebagai seorang Psikolog tentu saya mengetahui cara mengatasi rasa duka tetapi yang saya mau adalah biarlah semuanya berjalan secara alami dan mengandalkan Tuhan untuk melepaskan perasaan itu. Setiap pagi yang terpenting adalah mencari hadirat-Nya, saya butuh dituntun oleh hikmatNya. Tak putus2nya saya berdoa agar Tuhan melimpahkan hikmat dan kekuatan extra bagi saya untuk meneruskan bisnis almarhum suami dan menjalankan bisnis saya sendiri. Saya kembali fokus pada destiny/blue print hidup yang telah Tuhan tetapkan untuk saya. Saya tau tujuan saya diciptakan baik sebagai seorang wanita, seorang ibu maupun sebagai seorang psikolog. Hanya Kekuatan dan penghiburan dari Tuhanlah yang memampukan saya bekerja dengan antusias melayani banyak anak/keluarga dan dengan kesibukan itu membuat saya melupakan kesedihan. Saya juga tetap pelayanan di Bizcom dengan penuh sukacita dan  jalani hari-hari bersama anak-anak dengan penuh ucapan syukur. Di dalam perjalanan inilah, Tuhan mendengar doa-doa saya, banyak perkara-perkara ajaib Tuhan lakukan, saya banyak dipertemukan dengan orang-orang tulus yang bersedia bekerja sama dengan bisnis saya. Tuhan tuntun saya dari hari ke hari. Iman saya pun smakin bertumbuh. Yang saya pandang hanya Yesus dan janji-janjiNya. Saat saya mengerjakan bagian saya maka Tuhan pun mengerjakan bagianNya.

Prestasi akademik dan sosialisasi anak-anak  juga berjalan dengan baik. Mereka tetap ceria, komunikasi kami tetap lancar dan hangat. Nilai-nilai yang saya hidupi terus saya bagikan kepada mereka dalam setiap percakapan kami, Hubungan kami pun semakin kompak dan selalu ada waktu untuk doa bersama. Puji Tuhan badai terhebat dalam hidup kami mampu dilewati dengan tenang bersama-Mu ya Bapa. Bertahun-tahun tertanam di Bizcom mengajarkan saya tetap berpusatkan pada Allah dalam situasi apapun dan terus bertumbuh didalam kebenaran dan kepedulian bukan hanya didalam bisnis tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Hanya dengan melakukan ke tiga hal inilah saya tetap mendapatkan aliran damai sejahtera dan sukacita  ditengah badai yang  bergelora.

Saat ini hati dan pikiran kami jauh lebih pulih, kehidupan kami kembali dipenuhi canda tawa meskipun rasa kehilangan itu tetap ada namun firman-Nya menguatkan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Amin… Thank you Lord

Sturdy Backrest

By: Nissia Paramitha (Grogol)

Kemarin saya tidak bisa tidur. Jadilah saya bangun lagi, berusaha mencari “kegiatan”.

Waktu menunjukkan Pk 01.00 dini hari.

Saya membuka diary saya yang ada di laci meja. Buku ini adalah teman terbaik saya (selain Tuhan, tentunya).

Lalu, muncullah sebuah ide.  Saya berusaha menuliskan nama-nama teman terbaik yang saya punya selama ini. Kelihatannya ini sedikit sulit karena saya bukan orang super outgoing yang punya banyak teman.  Mereka biasanya yang mempunyai alur pikiran yang sama dengan saya, atau setidaknya, mirip lah, yang biasanya bisa jadi teman baik saya.

Hmm… List dimulai. Pertama, si A…

Kedua, si B…

Ketiga… Hmmm siapa ya.. Hmm… rasanya dia bukan teman baik saya. Hmm… Hmm…

Ternyata memang tidak mudah bagi saya untuk menemukan yang terbaik diantara yang baik.

Lalu, sejenak saya berpikir. Mengapa saya menggolongkan si A teman baik dan yang lain bukan? Dari mana tolok ukurnya? Tentunya ini subjektif, kan? Pakai perasaan saja.. Tapi mungkin juga tolok ukurnya dari jawaban, “Ke manakah kamu bercerita tentang masalah-masalah yang kamu hadapi?”

Lalu, saya mengingat beberapa teman yang diantaranya memang pernah saya “curhati”. Beberapa dari mereka tidak terlalu bisa menanggapi cerita saya dengan baik. Entah saya bisa menilainya dari sikapnya ataupun reaksinya. Pokoknya, saya bisa merasakan siapa yang akhirnya bisa menjadi teman baik. Pasti semua orang juga begitu, kan? Feeling kadang memang lebih kuat.

Karena kebingungan, saya membuka halaman di diary yang lain. Saya menemukan tulisan saya sendiri yang berbunyi, “There is one time that you really feels everybody is disappointing. But God will feel the way you feel.”

Ternyata, memang tak ada sahabat yang sesetia Tuhan Yesus

Kemudian hati saya seperti diingatkan, apakah kamu menganggap Tuhan adalah teman baikmu sehingga apapun yang kamu alami kamu cerita ke Dia terlebih dahulu sebelum ke yang lain? Karena ini adalah fondasi dari segala-galanya bahwa Dia harus dilibatkan dalam segala sesuatunya, sampai hal yang paling sepele sekalipun.

Dari mana level iman ditentukan? Tentu dari kedekatannya dengan Tuhan. Bagaimana kamu menganggap Tuhan adalah teman dekatmu kalau saat ada apa-apa, kamu nggak langsung “lari” ke Dia?

“Ah, kan Tuhan juga udah tau masalah kita walaupun kita gak pernah cerita…”

Beda loh. Tuhan Maha Tau, tapi Dia nggak mau tahu sama orang-orang yang nggak pengen tahu. Jadi poinnya ada di kitanya, apakah kita mencari Dia atau nggak. Ketika kita punya masalah dan kita dateng ke Tuhan, Tuhan pasti seneng karena anakNya mencari Dia.  So, let’s keep our good relationship with God!

Kombinasi Iman dan Tindakan

14-jonathan-and-armor-bearer

1 Samuel 14:6 Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

Seorang pribadi bernama Yonatan mengajarkan kita untuk memiliki iman yang murni disertai tindakan.

Ketika itu pada awal Saul jadi raja orang² Ibrani ga punya senjata sendiri, cuma Saul and Yonatan yang punya senjata besi (1 Samuel 13:19-22).
Tapi kalo kita baca kisah lanjutannya nih keren banget lho, lewat iman murni Yonatan Tuhan bisa bekerja secara dahsyat! Check it out the story 😉

Continue reading “Kombinasi Iman dan Tindakan”