Kepercayaan Masyarakat RI Terhadap Pemerintah Tertinggi di Dunia

Presiden-dan-Wakil-Presiden-RI-Joko-Widodo-Jokowi-dan-Jusuf-Kalla-JK
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah Indonesia menjadi yang paling tinggi di dunia. Hal ini disampaikan oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Co-operation and Development/OECD), dalam laporan terbarunya.
Laporan berjudul ‘Government at Glance 2017’ itu menyebutkan, sekitar 80 persen masyarakat Indonesia percaya dengan Pemerintah Pusat. Raihan ini naik dari posisi tahun sebelumnya yang mencapai 73 persen.
Uniknya, Swiss yang berada di posisi kedua juga meraih tingkat kepercayaan terhadap pemerintah mencapai 80 persen. India ada di urutan ketiga dengan porsi 73 persen.
Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin Donald Trump hanya berhasil mendapatkan pengesahan dari 30 persen warganya. Sedangkan Pemerintah Inggris memiliki kepercayaan sekitar 40 persen warganya pada tahun 2016.
OECD, sebuah kelompok 35 negara, menggunakan Gallup World Poll tahun 2016 untuk mengukur tingkat kepercayaan di pemerintah pusat dalam laporannya. “Kepercayaan pada pemerintah tetap di bawah tingkat sebelum krisis (pre-crisis). Rata-rata di negara-negara OECD, 42 persen warga melaporkan memiliki kepercayaan pada pemerintah pusat mereka pada tahun 2016, dibandingkan dengan 45 persen sebelum tahun 2007,” kata laporan tersebut, Minggu (16/7).
Sementara pangsa warga yang menggunakan saluran digital untuk berinteraksi dengan pemerintah terus bertambah. Menurut laporan OECD, ada kesenjangan yang terus-menerus di tingkat penyerapan informasi terkait pemerintah berdasarkan tingkat pendidikan, ruang keluarga dan usia.
Laporan tersebut juga mengatakan bahwa rata-rata, partisipasi perempuan hanya 29 persen sebagai anggota parlemen dan 28 persen menteri di negara-negara OECD pada tahun ini.
“Para perempuan ini mewakili 58 persen dari total angkatan kerja sektor publik, namun mereka hanya memegang 32 persen posisi senior. Representasi wanita yang setara dalam kehidupan publik dan pekerjaan di semua tingkat memperluas kumpulan bakat yang tersedia untuk berkontribusi pada kinerja organisasi,” jelas OECD.
Sumber: kumparan.id

Life Must Go On

Kejadian 11:27 Inilah keturunan Terah. Terah memperanakkan Abram, Nahor dan Haran, dan Haran memperanakkan Lot.
28 Ketika Terah, ayahnya, masih hidup, matilah HARAN di negeri kelahirannya, di Ur-Kasdim.

31 Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk PERGI ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke HARAN, dan menetap di sana.
32 Umur Terah ada dua ratus lima tahun; lalu ia mati di HARAN.

Sebenarnya asal muasal panggilan ke tanah Kanaan sudah dimulai oleh ayah Abram (sebelum diganti namanya oleh Tuhan menjadi Abraham) yang bernama Terah, sebelum Abram menerima panggilan itu. Namun Terah berhenti di Haran.

Haran, nama suatu kota yang sama dengan nama anaknya yang mati di negeri kelahirannya. Tidak dijelaskan kenapa Terah berhenti di kota yang sama dengan nama anaknya ini dengan detail, tapi mungkin saja dia sedih dan teringat akan masa-masa menyenangkan ketika dulu anaknya Haran masih hidup 😭

Terah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya, tinggal dan semakin terpuruk dalam kesedihan memori masa lalunya. Mungkin dia menyesal sekali atas hal-hal yang tidak sempat dia lakukan ke Haran ataupun ada tindakan atau perkataan dia yang menyakiti hati anaknya ini sebelum Haran mati, hingga akhirnya Terah pun mati di usia 250 tahun (Kejadian 11:32).

Mungkin Terah menyanyikan lagu ini kalau waktu itu ni lagu uda hits :
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuskan memoriku tentang dia
Hilangkanlah ingatanku jika itu tentang dia
Ku ingin ku lupakannya 🎶

Mungkin juga cerita di kitab Kejadian mengenai Terah akan lebih dasyat (tidak hanya sebatas 9 ayat) seandainya dia tidak berhenti meratapi masa lalunya.

Terkadang saat hidup memberi hal yang ga seperti yang kita ingini, kita pun kecewa pada diri sendiri, orang lain bahkan Tuhan. Mungkin itu kegagalan di kuliah, gagal interview di perusahaan bonafit, kegagalan di dalam pekerjaan sebelumnya, kematian dari orang-orang yang kita sayangi (orang tua, saudara, anak, sahabat), terkena PHK, atau ribuan kondisi buruk lainnya di luar skenario ideal kita.

Banyak orang yang seringkali menyimpan begitu banyak emosi-emosi negatif pada kejadian atau figur tertentu sehingga hidupnya masih tertambat di masa lalu walau sebenarnya hal itu sudah jauh lama berlalu. Waktu terus berjalan dengan normal tetapi bagi orang-orang yang mengalami hal ini waktu seolah terhenti pada momen kejadian itu. Raganya ada di hari ini namun jiwanya masih tertambat pada kegagalan, dendam, rasa bersalah dan trauma masa lalu.

Faktanya kita ga akan pernah bisa merubah masa lalu yang buruk (maupun yang baik), tapi kita selalu bisa belajar dari kesalahan dan kebaikan di masa lalu, memperbaiki sikap hati, paradigma serta sikap hidup hari ini & memperoleh masa depan yang lebih baik bersama Tuhan.

Tidak peduli seberapa hancur masa lalu seseorang, sesungguhnya masa depannya tanpa cacat!

Masa depan kita ditentukan oleh sikap hati dan tindakan yang diambil hari ini. Jangan mau lagi tertambat di masa lalu yang tidak produktif karena setiap hari baru adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sukses adalah menjadi pribadi yang lebih baik hari ini dibandingkan dengan hari kemarin.

So stop menghakimi diri! Jia you, life must go on dude 😎 💪

Sukses Muda Pasti Bisa

Benarkah demikian?
Dapatkah ini digapai?
Ataukah ini hanya sekedar slogan beberapa orang yang bertekad untuk mengejar impian serta cita-citanya untuk meraih kesuksesan?

Berawal dari segudang pertanyaan yang terbersit dipikiran saya; akhirnya saya pun mencari  referensi dari berbagai tokoh di Alkitab. saya pun terkagum oleh tokoh yang satu ini.

Ya dialah Ishak. Seorang muda yang hidup di masa sulit. Kekeringan yang telah melanda daerah tempat tinggalnya,  membuat Ishak berniat untuk menyebrang ke daerah Mesir.

Pada waktu itu Allah menyatakan diri Nya pada Ishak dan mengatakan: perjanjian yang telah Aku ikat dengan bapakmu Abraham, masih tetap berlaku. Keturunanmu akan sebanyak bintang dilangit JIKALAU engkau tetap berdiam diri di negeri yang telah Kujanjikan ini.

Dan pada akhirnya, ia memilih untuk taat kepada firmanNya dan tetap bermukim di daerah Filistin.

Ishak merupakan seorang pengusaha ternak yang memulai usahanya dari kecil-kecilan.

Ketika Ishak percaya serta beriman pada Firman Nya, TUHAN pun tidak melupakan janji Nya. Lalu  diberkatilah Ishak dan usahanya. Usahanya ini membuahkan hasil seratus kali lipat dalam tahun pertamanya. Dan kian lama kian bertambah kayalah Ishak. Kawanan kambing domba lembu sapi semakin bertambah banyak.

Kecemburuan sosial pun tak terhindarkan antara penduduk sekitar dengan Ishak.
Keadaan pun kian lama semakin menghimpit  Ishak. Sumur-sumur yang telah ada ditimbun dengan tanah dan ditutup oleh penduduk sekitar. Lalu Ishak pun menyingkir ke daerah lainnya. Kejadian ini terus berulang kembali.

Pada waktu yang ke empat kalinya, akhirnya Allah menyatakan diri Nya dan meneguhkan kembali iman Ishak. Dan sesudah itu Raja negeri itu menemui Ishak untuk mengikat perjanjian karena raja tersebut telah menyaksikan sendiri bahwa Allah telah menyertai Ishak dan ia berjanji untuk tidak akan menggangu Ishak kembali.

Setelah membaca kisah ini, saya pun tersadar bahwa hidup sukses bukanlah berarti jalan akan selalu mulus. Tantangan akan datang silih berganti. Kerikil dan terjalnya kehidupan mungkin akan singgah  menghampiri kehidupan kita.

Tapi ketika diri kita berpusatkan Kristus  dan tetap setia dalam proses kehidupan yang harus dilalui serta tetap berpegang pada Firman Nya, itu merupakan kesuksesan yang sejati.

Ulangan 28:13 berbunyi:
Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan ekor,
Engkau akan tetap naik dan bukan turun.

Dan akhirnya saya mengerti arti ayat diatas ini.. dan mari saya lanjutkan penggalan kalimat berikutnya:
Apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu yang kusampaikan pada hari ini kaulalukan dengan setia.

Wow.. Berarti ini bukan janji sembarang janji. Berkat tersebut akan mengalir jika kita melakukannya dengan setia.

Sumber: Kejadian 26:1-35

[TIPS] Perencanaan Keuangan yang Alkitabiah

Salah satu tipuan setan yang paling jitu adalah pemikiran bahwa kebahagiaan ada di dalam hal-hal yang kita miliki. Melalui dusta ini, dia telah membuat berhala lembu emas dan ilah yang disebut materialisme. Seperti anjing menggonggong di tengah jalan, setan membujuk setiap orang yang lewat, “datanglah,jilatlah kakinya, beli, jual, dapatkan keuntungan, dan miliki, itu semua akan membuat anda bahagia.”

Saudaraku, meskipun kita telah diselamatkan, kita tidaklah bebas dari sasaran setan atau terlepas dari virus materialisme. Seperti suatu wabah, hal itu menjangkiti kita disetiap sudut: televisi, media cetak, baliho, etalase dan jalanan. Godaan materialisme ada di mana-mana dan berusaha masuk ke dalam hidup kita melalui pesan yang indah dan manis didengar.

Alkitab telah memperingatkan kita untuk waspada dan berjaga-jaga terhadap tipu muslihat setan (1 Pet. 1:13; 5:8). Mengapa? Karena, jika kita tidak berjaga-jaga, setan akan mengubah fokus kita dari melayani Tuhan secara pelan-pelan menjadi melayani iblis (1 Pet. 2:9).

Uang adalah perkara kecil (Lukas 16:10). Kenapa? Karena uang tidak bisa membeli dan memberi kebahagiaan. Uang tidak bisa memberikan hidup kekal atau makna hidup yang sejati (Yes. 55:1-3; Why. 3:17-18). Tetapi, tidak ada yang lebih memperlihatkan hubungan kita dengan Tuhan seperti sikap kita terhadap uang.

Yesus Kristus menjelaskan bahwa salah satu tanda seseorang memiliki kehidupan rohani yang sehat adalah memiliki sikap yang benar terhadap harta. Enambelas dari tigapuluh delapan perumpamaan Yesus berkaitan dengan uang. Satu dari sepuluh ayat dalam Perjanjian Baru berkaitan dengan keuangan. Alkitab memiliki 500 ayat mengenai doa, kurang dari 500 ayat mengenai iman, tapi lebih dari 2,000 ayat mengenai uang. Uang merupakan masalah yang sangat penting karena sikap seseorang terhadapnya sangat menentukan seperti apa hubungannya dengan Tuhan, berkenaan dengan pemenuhan rencanaNya dalam hidup ini.

Petunjuk Mengenai Menabung
Dukungan Alkitab

  1. Tuhan mengarahkan Yusuf untuk menyimpan atau menabung untuk masa depan (Kej. 41:35).
  2. Menabung untuk masa depan menunjukan hikmat Tuhan dan dinyatakan ciptaan Tuhan lainnya (Ams. 21:20; 30:24-25; 6:6-8).
  3. Menabung untuk masa depan merupakan tanggung jawab pelayanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang dapat diperkirakan maupun yang darurat (1 Tim. 5:8; 2 Kor. 12:14, Ams 13:22).

Petunjuk Alkitab:

  1. Menjaga pandangan yang benar akan kepemilikan. Ingat! Semua kekayaan kita berasal dari Tuhan. Kita adalah pengelola, bukan pemilik (1 Taw. 29:11-16; Luk. 16:12).
  2. Menjaga pandangan yang tepat akan keamanan. Kita harus meletakan kepercayaan dalam Tuhan dan bukan pada kekayaan kita (1 Tim. 6:17).
  3. Hati-hati terhadap motivasi, prioritas, dan alasan yang tidak murni dan tidak Alkitabiah mengenai menabung seperti kekhawatiran dan menimbun karena ketidakamanan atau ketamakan (Mat. 6:25-33; Luk. 12:13-31).
  4. Keputusan mengenai masa depan harus dibawa dalam doa dan berserah pada kehendak Tuhan (Yak. 4:13-15).
  5. Memberi dari hasil tabungan atau investasi Anda (Luk.12:16-21; 1 Tim. 6:18-19; 1 Yoh. 3:17).
  6. Hindari investasi yang beresiko terlalu tinggi (spekulatif) atau menjadi kaya dengan cara instan dan tidak masuk akal (Ams. 21:5; 28:20, 22; 1 Tim. 6:9).
  7. Mengawasi prioritas. Menjadikan kerajaan Allah sebagai investasi nomor satu (Mat. 6:20, 33; Luk. 12:31; 1 Tim. 6:18-19).

Petunjuk Mengenai Pengeluaran

Kepuasan

Kita harus belajar untuk puas dengan apa yang kita punya (Fil. 4:11-13; 1 Tim. 6:6, 17-19; Ibr. 13:5). Saat kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki, kita bebas dari ketamakan dan perbudakan materialisme. Ini artinya kebebasan mengikuti Tuhan adalah kebebasan mengusahakan nilai dan tujuanNya. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kepuasan? Kepuasan merupakan hasil dari memiliki harta sorgawi dan meletakan seluruh kekhawatirannya kepada Tuhan, Bapa Sorgawi kita, yang berdaulat (Mat. 6:19-33; 1 Pet. 5:6-7).

Godaan

Waspadalah terhadap godaan dan ajaran dunia (Rom. 12:1-2; 13:11-14; 1 Pet. 1:13-16; 5:8). Ada ratusan ajaran setiap hari yang menarik perhatian kita melalui televisi, radio, iklan, dan majalah—semua dibuat untuk mendorong kita membeli hal-hal yang tidak kita perlukan, dengan uang yang sebenarnya tidak kita punyai, untuk membuat kagum orang yang tidak kenal, dan untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu.

Mengevaluasi Pembelian Menurut Prinsip Alkitab

  1. Apakah kita membayar secara tunai ataukah pembelian itu membuat kita harus berhutang? (lihat petunjuk mengenai Kredit).
  2. Apakah kita memiliki damai sejahtera mengenai hal itu? (Rom. 14:23; Kol. 3:15) Kita perlu mengawasi kedenderungan kita untuk merasionalisasi—memberikan jawaban menipu pada diri sendiri merupakan hal yang buruk.
  3. Apakah itu suatu kebutuhan atau keinginan (ketamakan)? (1 Tim. 6:9; 1 Yoh. 2:15). Apakah itu berguna bagi keluarga, pertumbuhan rohani, kesehatan, pelayanan, nama Tuhan, dan meningkatkan kasih kita pada Tuhan atau sebaliknya menghalangi semua itu? (1 Tim. 3:4: 5:8; 1 Kor. 6:12).
  4. Apakah kita hidup dibawa standart atau di atas standart? Apakah gaya hidup yang kita terapkan adalah cukup atau boros? Apakah kita perlu mengurangi pengeluaran kita dengan mengurangi standar kepuasan? (Mat. 6:33; Luk. 12:15, 23; Ams. 15:16-17; 16:8; Pengkh. 5:10-11).

Petunjuk Mengenai Pinjam-Meminjam

Prinsip Dasar

  1. Alkitab mengajarkan memberi pinjaman daripada meminjam karena itu menghasilkan kebebasan dan pelayanan yang bijak (Ul. 15:5-6).
  2. Peminjaman atau hutang yang tidak bijak bisa membuat kita diperbudak (Ams. 22:7).
  3. Gunakan kredit sebijak mungkin dan hindari kredit sebisa mungkin. Walau tidak dihalangi oleh Alkitab, kredit pada umumnya dinyatakan dalam bentuk negatif. Roma 13:8 sering digunakan sebagai larangan untuk meminjam/berhutang, tapi ayat di atas tidak secara langsung melarang penggunaan kredit atau berhutang. Ayat tersebut jangan terlepas dari ayat-ayat sebelumnya, yan mana mengajarkan pentingnya seseorang membayar hutangnya baik secara fisik atau rohani diwaktu harus membayar.
  4. Mengenai kredit ada 2 alternatif dasar:(b) Tabung sekarang dan beli kemudian dengan tunai dan simpan bunganya.
  5. (a) Beli sekarang dengan kredit dan bayar bersama dengan bunga.

Jaga Pinjaman Sekecil Mungkin

  1. Bunga pinjaman menambah biaya hidup dan mengurangi kemampuan kita untuk melayani dengan baik. Jika kita harus meminjam, kita harus mencari bunga yang rendah dan jangka pendek.
  2. Kredit bisa berbahaya karena itu bisa memperbudak orang kepada kreditor dan keinginan mereka daripada keinginan Tuhan. Itu membuat dorongan untuk terus membeli lebih kuat. Sistem dunia sangat tergantung pada pembelian sebagai penenang kebosanan dan frustasi hidup.
  3. Kredit bisa menjadi pengganti kepercayaan pada Tuhan dan mendapatkan apa yang kita inginkan tanpa menunggu waktu Tuhan. Kita menggunakan itu untuk mengurangi ketergantungan pada Tuhan. Kenapa? Karena kita sering takut Dia tidak memberikan apa yang kita inginkan saat kita menginginkannya (Ps. 37:7-9, 34; 147:11; Matt. 6:30-34; Fil. 4:19).
  4. Kredit mengurangi kemampuan kita memberi pada Tuhan dan mereka yang membutuhkan.
  5. Penggunaan kredit sering merupakan kegagalan untuk puas dengan apa yang telah kita miliki (dosa ketidakpuasan) (Fil. 4:11; 1 Tim. 6:6-8; Ibr. 13:5). Orang yang materialistis tidak pernah puas, tapi yang mengandalkan Tuhan belajar untuk mencukupkan diri.

Apa yang ‘Jangan’ dalam Meminjam

  1. Jangan membeli sesuatu dengan hutang jika itu akan menghancurkan kebebasan keuangan kita.
  2. Jangan berhutang sekarang atas alasan masa depan (seperti kenaikan harga atau penjualan yang lebih baik). Ini menyalahgunakan Tuhan dan kedaulatanNya.
  3. Jangan berhutang untuk rumah sebelum anda memiliki sumber pendapatan (Ams. 24:27).
  4. Jangan untuk kebutuhan sehari-hari, pengeluaran sehari-hari, atau untuk kesenangan.
  5. Jangan menggunakannya untuk hal-hal yang nilainya berkurang dengan cepat, kecuali jangka waktunya sangat pendek (yaitu, 30-90 hari).
  6. Mengenai barang benilai, seperti rumah atau investasi bisnis, jangan meminjam di luar kemampuan anda.
  7. Jangan mengijinkan hutang (tidak termasuk gadai) lebih dari 20 % take-home pay. Ambil yang 10 persen atau kurang.
  8. Jangan ijinkan pembayaran gadai (termasuk insuransi dan pajak) lebih dari 25 atau 30 persen take-home pay.

Pertanyaan yang Diperlukan Sebelum Meminjam

  1. Apakah saya benar-benar membutuhkannya?
  2. Apakah saya telah berdoa meminta Tuhan untuk itu dan menunggu cukup lama untuk dijawab olehNya?
  3. Apakah saya tidak sabar dan ingin memuaskan kesenangan secepatnya?
  4. Apakah Tuhan menguji iman, nilai, motivasi saya, dll.?
  5. Apakah saya tidak membelanjakan uang yang Tuhan sediakan untuk barang itu dengan baik atau melanggar prinsip keuangan Tuhan?
  6. Apakah saya bersalah karena:
    • Pelit: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Ams. 11:24; 11:25-27).
    • Terburu-buru: “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman” (Prov. 28:20).
    • Malas: “maka datanglah kemiskinan seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata” (Prov. 24:34).

Petunjuk dalam Memberi

Tuhan Mengharapkan Kita untuk Memberi

  1. Melalui Karya AnugrahNya: Melalui hubungan dengan Dia, memberi merupakan hasil karya anugrah Tuhan dalam hidup sehingga itu menghasilkan komitmen hidup seseorang pada Tuhan dengan pemberian yang mengalir keluar dari komitmen itu (2 Kor. 8:1-2, 6-7; 9:9-11).
  2. Dalam Iman: Dia telah berjanji untuk mencukupi seluruh kebutuhan kita; pemberian kita tidak akan menbuat kita kekurangan (2 Kor. 9:7; Fil. 4:19).
  3. Dengan Memiliki Tujuan: Kita memberi dengan perencanaan yang seksama dan dibawa dalam doa. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya” (2 Kor. 9:7).
  4. Secara Teratur: “Dihari pertama setiap minggu” menolong untuk mendorong ketekunan dan disiplin dalam memberi. Ini menciptakan konsistensi dan keteraturan yang menyatakan niat kedalam tindakan (1 Kor. 16:2).
  5. Secara Pribadi: “Biarlah setiap kamu” memenuhi kebutuhan setiap orang percaya dengan membuat pemberian sebagai tanggung jawab pribadi yang diberikan Tuhan (1 Kor. 16:2).
  6. Secara Sistematis: “sisihkan dan simpan” menimbulkan kebutuhan untuk memiliki metode atau system dimana uang untuk pekerjaan Tuhan secara khusus disisihkan, disimpan untuk diberikan, sehingga tidak digunakan untuk hal lain (1 Kor. 16:2).
  7. Secara Proporsional: Dalam Perjanjian Baru, menyisihkan sebagian untuk diberikan (sebagai persepuluhan) telah digantikan oleh prinsip anugrah pemberian, secara sukarela, bertujuan, dan proporsional. Standar baru sekarang ini adalah “sesuai berkatNya” (1 Kor. 16:2), “memberi menurut kemampuan mereka” (2 Kor. 8:3), “Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.…” (cf. 2 Kor. 8:12-15, Mark 12:41-44), dan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan” (2 Kor. 9:7).

Kepada Siapa Kita Harus Memberi?

  1. Gereja Lokal. “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (Gal. 6:6; cf. juga 1 Tim. 5:17-18). Jika gereja local akan membentuk pusat pelayanan keluar, maka sudah sewajarnya jika itu menjadi prioritas pertama anda dalam memberi.
  2. Organisasi lain dan Individu. Ini termasuk misi, kelompok para-church dan individu yang terlibat dalam pelayanan ini (3 John 5-8).
  3. Sesama Orang Percaya yang Membutuhkan. Mereka yang tidak mampu menyokong diri sendiri atau yang menghadapi masalah serius harus ditolong sebisa mungkin. Mereka yang menolak bekerja jangan didukung (1 John 3:17; Jam. 2:15-16; Gal. 6:10; Heb. 10:33-34; 13:1-3 with 2 Thess. 3:6-10).
  4. Orang Belum Percaya yang Membutuhkan. Prioritas pertama kita adalah mereka yang seiman, tapi kita juga menjangkau orang lain yang membutuhkan sebisa mungkin (Gal. 6:10).

Pemberian yang Proporsional

Apa artinya memberi secara proporsional? Bagaimana itu menentukan berapa banyak yang harus diberi? Sangat mudah menentukan sepuluh persen dari seluruh jumlah pendapatan kita sebulan. Tetapi berapa banyak pemberian proposional itu? Apakah “sekehendak hatinya,” atau “sebanyak dia diberi,” atau “semakmurnya dia,” atau “jika ada kemauan maka baiklah memberi menurut apa yang didapat …” Sebanyak apa itu?

  1. Itu bukan suatu jumlah tertentu, atau persentase tertentu, tapi suatu proporsi didasarkan atas apa yang dimiliki seseorang, kebutuhan seseorang, dan kebutuhan orang lain, termasuk pekerjaan Kristus atau pelayanan gereja lokal.
  2. Mereka yang memiliki sedikit juga memberi semampu mereka (2 Kor. 8:2-3).
  3. Mereka yang tidak memiliki apapun, jika ada kerelaan, tidak diharapkan memberi apapun (2 Kor. 8:12).
  4. Mereka yang kurang (kebutuhan pokok) akan menerima dari mereka yang lebih sehingga ada keseimbangan (2 Kor. 8:13-15). Ini bukan socialism atau komunisme yang memaksa dan mengusahakan adanya kesamaan diluar keragaman lingkungan dalam bekerja, bakat, dan insentif pribadi (cf. 2 Tim. 6:17f).
  5. Tuhan tidak meminta mereka yang memiliki banyak untuk menjadi miskin atau membebadi mereka yang kaya (2 Kor. 8:13). Keseimbangan yang dinyatakan dalam pemberian yang proporsional ada 2 sisi: (a) Meliputi bantuan untuk menolong orang yang membutuhkan sampai mereka mampu secara keuangan melalui bekerja (Eph. 4:28; 2 Thess. 3:10-15). Kita tidak memberi sehingga orang lain bisa hidup enak atau memiliki standar hidup yang sama dengan semua orang. (b) Ini menciptakan keseimbangan dalam pengertian bahwa mereka yang kurang memberi sesuai kemampuan demikian juga yang mampu sesuai dengan kemampuannya.
  6. Mereka yang berkelimpahan harus kaya dalam pekerjaan baik, mereka harus menggunakan kelimpahannya dengan bebas untuk Kristus (2 Cor. 8:14; 2 Tim. 5:17-18).
  7. Kemakmuran yang meningkat janganlah menghasilkan standar hidup yang terus meninggi, atau pengeluaran yang percuma,tapi peningkatan dalam memberi, tidak hanya jumlah tapi dalam persentase. Jika orang percaya masa kini berkomitmen pada pemberian yang proporsional, banyak orang yang akan memberi lebih dari sepuluh persen. Statistik menunjukan, sebagian besar orang percaya memberi kurang dari 3-5 persen.

Definisi Pemberian yang Proporsional

Pemberian yang proporsional adalah pemberian yang sesuai dengan berkat Tuhan, sebagai pelayan yang ingin menginvestasikan hidupnya dalam kekayaan surgawi. Pemberian yang proprosional tidak berarti memberi lebih, tapi memberi sebagian besar dari pendapatan seseorang—bagian terbesar diberikan untuk pekerjaan Tuhan.

Dalam Pemberian yang Proporsional:

  1. MOTIF KITA dalam memberi adalah berkat Tuhan, untuk meningkatkan buah dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan (2 Kor. 9:8-15).
  2. UKURAN KITA dalam memberi adalah berkat material dari Tuhan (1 Kor. 16:2).

Ilustrasi mengenai Pemberian yang Proporsional:

Orang percaya A memiliki pendapatan $20,000 setahun dan dia memberi sepuluh persen, yaitu $2,000. Orang percaya B memiliki pendapatan $50,000 setahun dan memberikan sepuluh persen, yaitu $5,000. Orang percaya B telah memberi $3,000 lebih banyak dalam setahu tapi ini tidak proporsional karena Orang percaya A hanya memiliki $18,000 untuk dihidupi dan Orang percaya B masih memiliki $45,000, dua kali lebih banyak. Orang percaya B bisa memberi 20 persen ($10,000) dan masih memiliki $40,000 tetap dua kali lebih banyak dari Orang percaya A. Orang percaya B tidak hanya harus memberi lebih banyak tapi secara proporsi juga harus lebih banyak.

Janji Tuhan untuk Pemberi yang Murah Hati

Lukas 16:10-11: Umumnya, Tuhan tidak mempercayakan kekayaan yang lebih banyak pada kita sampai kita terbukti setia dengan apa yang kita punya sekarang.

2 Korintus 9:8-11: Pemberian kita tidak akan membuat kita kekurangan; Tuhan tidak saja menyediakan apa yang telah kita berikan, tapi dia akan meningkatkan kemampuan kita dalam memberi saat kita memberi dengan limpah. Tujuannya disini bukan untuk meningkatkan kekayaan pribadi, tapi pemberian.

Tantangan Alkitab Mengenai Kekayaan Duniawi

Dimana Harta Kita?

Prinsip Dasar: Apa yang kita kumpulkan menentukan cara pandang kita akan nilai hidup (Mat. 6:22-23).

Pandangan Alkitab: Harta kita ada di sorga (Mat. 6:19-20).

Alasan Alkitab:

  1. Harta kita permanent di sorga (Mat. 6:20; 1 Pet. 1:4).
  2. Harta dibumi itu sementara dan bisa hilang. Kita tidak bisa membawa harta dunia kita kesorga (Luk. 12:20-21; 1 Tim. 6:7).
  3. Harta dunia kita tidak memuaskan karena tidak bisa membeli kebahagiaan sejati (Isa. 55:1-3; Luk. 12:15, 23; Pengkhotbah. 5:10).
  4. Harta dunia kita tidak bisa memperpanjang hidup atau memberikan keamanan (Luk. 12:16-21).
  5. Harta kita menentukan prioritas kita. Tanpa harta yang benar, kita akan mengejar hal yang sala dan menyia-nyiakan hidup kita (Matt. 6:21; Luk. 12:34; 1 Tim. 6:9-10; Luke 19:23-26).
  6. Harta terbesar kita adalah kesalehan, yaitu hidup yang penuh ucapan syukur (1 Tim. 6:6; Ibr. 13:5; Fil. 4:11-12; Ams. 15:17; 16:8; 17:1).

Penjelasan Alkitab: Harta sorgawi terdiri dari mahkota, upah, dan tanggung jawab yang diberikan pada orang percaya dikursi penghakiman Kristus bagi pelayan yang setia (Luk. 19:16-19; 1 Kor. 3:12-15; 9:25; 1 Tes. 2:19; 2 Tim. 4:8). Harta terutama adalah Tuhan dimuliakan (1 Pet. 4:11; Why. 4:9-11).

Siapa Tuan Kita ?

Seorang pelayan tidak bisa melayani dua tuan. Kita tidak bisa melayani Tuhan sekaligus melayani Mamon (materialisme) (Luk. 16:1-13; Mat. 6:24).

Alasan Alkitab: Tidak mungkin melayani dua tuan disaat yang sama. “ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain” (Luk. 16:13).

Pandangan Alkitab:

  1. Lukas 16:1-2: Hidup adalah pelayanan dan kita adalah pelayan Tuhan yang bertanggung jawab atas pelayanan yang dipercayakan pada kita. Berhenti berpikir seperti pemilik. Mulai berpikir seperti manajer/penatalayanan/pengelola.
  2. Lukas 16:1, 11-12: Kita memboroskan milik Tuhan dalam hidup kita atau menginvestasikannya dengan bijak bagi kemuliaanNya?
  3. Lukas 16:10: Uang, dalam nilai sejatinya, merupakan hal “kecil”, tapi, kesetiaan dalam hal kecil (uang) merupakan tanda kesetiaan kita dalam hal besar (nilai kekal).
  4. Lukas 16:11: Penggunaan uang adalah ujian dari kesetiaan kita.
  5. Lukas 16:11: Uang tidak menunjukan kekayaan yang sebenarnya.
  6. Lukas 16:12: Uang harus digunakan secara bijak dan setia sebagai bagian dari pelayanan kita kepada Tuhan.
  7. Lukas 16:12: Uang dan pendapatan, jika kita tidak hati-hati, bisa menjadi tuhan/berhala kita.

Tantangan Alkitab:

  1. Apakah saya hamba uang dan harta duniawi? Apakah mungkin saya tidak mengetahuinya? Kita harus memilih antara melayani uang atau Tuhan!
  2. Apakah saya mengorbankan kualitas seperti Kristus dan tanggung jawab dalam mengejar harta dunia? (a) hati nurani yang murni;
    (b) kejujuran, moral;
    (c) Persahabatan;
    (d) Kehidupan keluarga (istri, suami, anak, saudara);
    (e) Reputasi;
    (f) Kemuliaan Tuhan, dll.
  3. Apakah saya lebih peduli pada harta dunia dan masalah keuangan daripada hubungan saya dengan Tuhan dan kebenaran-Nya?
    (a) Apakah prioritas saya;
    (b) Bagaimana dan di mana saya menghabiskan waktu;
    (c) Apa yang paling saya pikirkan— apakah itu uang atau hubungan dengan Tuhan, atau bagaimana mengembangkan kehidupan iman saya?
  4. Apakah saya mencari uang dan harta dunia (prestise, kuasa, kedudukan, kesenangan, kepemilikan, dll.) Semua itu bisa Tuhan berikan?
    (a) Kebahagiaan, sukacita sejati;
    (b) Kepuasan;
    (c) Damai dalam Pikiran;
    (d) Keamanan;
    (e) Tujuan dan arti hidup.

Jika jawaban anda ya, maka uang telah menjadi tuhan atas dirimu! Renungkanlah!!!

Kesimpulan

Setelah mempelajari prinsip-prinsip ini, tanyakan hal ini: Apakah saya mau memberi diri pada konsep ini sebagai cara hidup untuk menjadi anak Tuhan atau pelayan Tuhan yang baik? Biarlah Tuhan menjauhkan kita dari berhala patung lembu emas materialisme.

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. (1 Petrus. 1:17-19).

Alkitombuku & Mr. J. Hampton Keathley, III Th.M.

Kenali Potensi dengan Analisa Sidik Jari

Oleh: Fauzul Akmal (MAHIRA CONSULTING)

Dunia senantiasa diwarnai oleh orang-orang yang memiliki bakat dan karya luar biasa yang mengagumkan dan tercatat dalam sejarah. Namun, disisi wajah dunia yang lain, banyak sekali orang yang sebenarnya berpotensi luar biasa, tetapi tidak pernah berhasil mencapai potensinya. Orang-orang dengan bakat luar biasa tersebut dapat mencipta suatu karya yang dapat berguna bagi banyak orang, dengan mengoptimalkan potensi yang terdapat dalam dirinya secara maksimal. Sementara, sebagian besar orang-orang lainnya terbelenggu dalam suatu dunia yang terasa hampa, tanpa mengetahui kemana sebenarnya arah yang paling tepat untuk melangkah, apa potensi terbesar mereka, bagaimana mengoptimalkan kekuatan yang ada dalam diri mereka, dan karya-karya besar apa yang mungkin dapat mereka ciptakan. Apakah memang karena dilahirkan dengan kondisi yang berbeda? Atau adakah alasan lainnya?

Pada saat kelahiran, otak bayi terdiri dari 100 miliar neuron, kira-kira sebanyak bintang dalam galaksi Bima Sakti. Terdapat pula satu triliun sel glia (perekat). Sel glia membentuk semacam sarang yang melindungi dan memberi makan neuron. Jadi dapat disimpulkan bahwa, setiap bayi yang dilahirkan ke dunia ini memiliki potensi kecerdasan yang sama. Lalu, apa yang menyebabkan sebagian orang dapat mengoptimalkan potensi kecerdasannya? Sementara yang lain gagal?

Dalam konteks kepribadian, pengaruh potensi bawaan (nature) bersifat genetis, berkaitan dengan struktur DNA. Setiap anak terlahir dengan ragam kombinasi struktur DNA yang berbeda. Struktur genetis ini merupakan cetak biru (blue print) dari kekuatan dan kelemahan (baca: bakat) seseorang. Namun, bakat tidak dapat berkembang secara optimal tanpa adanya stimulasi dari luar/ lingkungan (nurture).

Untuk mengetahui potensi kepribadian dan kemampuan intelegensia seseorang, telah lama dimulai dengan ilmu psikologi, melalui metode psikometri (pengukuran secara psikologis), yaitu dengan alat tes semacam psikotes, personality test, aptitude test, dan lain-lain.

Pengukuran metode psikometri, akurat untuk mendapatkat informasi faktual atas kondisi kepribadian dan intelegensia seseorang. Namun belum tentu dapat menyibak potensi genetis atau faktor nature, yang mungkin telah bias karena pengaruh lingkungan saat dilakukan pengukuran.

Selain dengan metode psikometri, ada sebuah pengukuran lain, yaitu metode biometri (pengukuran secara biologis). Pengukuran biometri memandang bahwa struktur biologis mempengaruhi struktur psikologis. Pengukuran biometri lebih melihat kondisi genetis yang bersifat permanen dan masih berada dalam level potensi. Dalam biometri, potensi baru bisa menjadi aktual ketika sudah mewujud ke permukaan luar, ketika telah menjadi bentuk perilaku yang dapat dilihat. Adapun data yang umumnya digunakan untuk pengukuran biometri adalah sidik jari.

Mengapa pengukuran biometri menggunakan data yang diperoleh dari sidik jari? Sidik jari terbentuk pada saat janin di dalam kandungan usia 13 minggu hingga 24 minggu.. Pembentukan pola sidik jari ketika janin dalam kandungan tersebut berkaitan dengan pembentukan struktur otak. Pada tahun 1986, Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr. Stanley Cohen melakukan penelitian tentang NGF (Nerve Growth Factor) dan EGF (Epidermal Growth Factor). Dari hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara garis-garis epidermal kulit dengan hormon sistem pertumbuhan syaraf (sistem syaraf pusat berhubungan dengan otak dan sumsum tulang belakang).

Tujuan dan manfaat analisa sidik jari:

  • Memberikan data referensi secara lengkap dan akurat atas kondisi potensi genetika seseorang.
  • Mengetahui potensi kekuatan bakat yang kuat dan bakat yang lemah, sehingga dapat memilih pendidikan dan karir masa depan secara lebih pasti.
  • Mengetahui peta stimulasi area fungsi otak, sehingga diketahui metode pembelajaran apa yang paling efektif.
  • Mengetahui kecenderungan kepribadian, sehingga dapat menentukan strategi manajemen komunikasi dan mengatasi konflik.

    Kelebihan analisa sidik jari:

  • Hanya perlu dilakukan satu kali seumur hidup, untuk mengetahui potensi genetik yang tidak akan pernah berubah.
  • Tingkat Akurasi tinggi
  • Untuk semua usia
  • Proses hanya memerlukan waktu 5 menit/orang untuk taking sample 10 jari dan telapak tangan di kedua belah tangan.
  • Dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
  • Tidak tergantung situasi, kondisi, mood, kesehatan, dan subyektifitas.
  • Investasi sekali seumur hidup.

Benarkah Alkitab Bertentangan dengan Hidup Sehari-hari? Perspektif dari Ayub, Amsal, dan Pengkotbah

By: Louisa Veronica Hartono – DTS Grogol

Alam bawah sadar kita cenderung berpikir bahwa dunia/alam spiritual (ya elaaah kaya di sinetron aja yak), yang diwakili dalam gereja, Alkitab dan hari Minggu, terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari dari Senin hingga Sabtu, utamanya yang meliputi pekerjaan dan dunia bisnis. Sehingga kita jadi orang saleh hari Minggu, tapi balik jadi orang salah hari Senin sampai Sabtunya.

Nah, dalam 1 bulan terakhir ini saya baru saja menyelesaikan kitab Ayub, Amsal, dan Pengkotbah. Membaca 3 kitab tersebut membuat saya berpikir mengapa Alkitab berbeda dari buku-buku lain, dan mengapa Alkitab sering “diklaim” sebagai buku yang terus laris sepanjang masa. Kenapa? Karena prinsip-prinsipnya sangat relevan dengan kehidupan manusia sepanjang jaman.

Ada dua hal yang sangat saya sukai dari Alkitab. Pertama, dari Alkitab kita belajar bahwa sisi rohani/spiritual sama sekali tidak terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari. Alkitab tidak “bermusuhan” atau mengajarkan kita untuk memisahkan diri (detachment) dari persoalan-persoalan dunia, seperti dalam berbisnis, bergaul dengan orang lain, mencari pasangan hidup, dan berumah tangga.

Gimana taunya? Kitab Amsal mengajarkan hal ini. Seluruh kitab tersebut berisi petuah-petuah, nasihat, ajaran dan anjuran praktis untuk berbuat baik. Tapi yang sangat mengena bagi saya adalah, kitab Amsal menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mengejar HIKMAT. Apa itu hikmat? Definisi dasar dari “Hikmat” atau wisdom adalah penggunaan suatu pengetahuan dengan benar. Lawan dari hikmat adalah kebodohan atau kebebalan (foolishness, folly). Amsal bahkan mempersonifikasikan hikmat sebagai seseorang yang bijak dan berpengetahuan luas yang berdiri di pinggir jalan dan memanggil-manggil orang untuk datang dan belajar darinya. Hikmat dengan gencar mempromosikan dirinya sendiri. Ia mengenalkan dirinya sebagai “pribadi” kesayangan Tuhan, yang telah ada sebelum bumi diciptakan dan bermain-main di pangkuan-Nya (Amsal 8:22-36). Ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada kekayaan sebanyak apapun, dan bahwa orang yang belajar darinya akan mendapat keuntungan yang melebihi emas dan perak. Ia menjanjikan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari dan mengejar dirinya akan mendapat banyak keuntungan, serta dilindungi dari jalan orang fasik, kehancuran, kerugian, dan sengsara-sengsara dalam hidup (Amsal 2-3). Pendek kata, hikmat menyimpulkan bahwa siapa yang mendapatkan dan mencintai dirinya, akan mendapat hidup dan Tuhan berkenan kepada dia (Amsal 8:35).

Saat saya membaca kitab Amsal, saya mendapat impresi bahwa Tuhan, melalui personifikasi Sang Hikmat, sangat-sangat menekankan pentingnya mengejar pengetahuan. Ia tidak ingin kita menjadi orang bodoh, bebal, atau tolol. Justru sebaliknya, yang namanya kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan kemiskinan itu sangat ditentang di Kitab Amsal ini. Namun jangan lantas diartikan bahwa Alkitab mengajarkan kita untuk menuhankan pengetahuan. Sebaliknya, Alkitab berulang kali mengatakan bahwa “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”! (Amsal 1:7).

Dulu saya suka merasa bahwa kalau ikut seminar-seminar tentang bisnis itu kita berdosa, karena kita kurang beriman. Tapi setelah membaca kitab Amsal, pengertian saya diperbarui dan saya tidak merasa tertuduh lagi. Boleh-boleh saja kita mengikuti seminar-seminar bisnis dan pengembangan diri lainnya, asalkan dengan motivasi dan pengertian yang benar, yaitu dilandasi rasa takut akan Tuhan. Nah, disini harus ditekankan juga bahwa rasa takut akan Tuhan bukan rasa takut yang gemetar gitu atau ketakutan, melainkan lebih ke arah penghormatan dan kekaguman yang dalam terhadap Dia (see, untuk bisa mengerti ini perlu hikmat juga lho!).

Rasa takut akan Tuhan itulah yang menjaga kita untuk keep on track. Segala pengetahuan yang didapat bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan digunakan untuk kebaikan sesama dan memperluas kerajaan Allah. Dirinya sendiri juga akan ikut diuntungkan dengan pengetahuan, ilmu, atau pengertian yang didapat, namun fokusnya beda. Diri sendiri bukanlah fokus utama dalam mengejar ilmu itu, melainkan Tuhan dan orang lainlah yang menjadi fokusnya. Ilmu yang didapat digunakan sebagai “senjata” dalam memperlengkapi kita untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di tengah-tengah dunia ini. Tujuannya? Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang! Hal ini berbeda dengan orang-orang pintar tapi atheis yang terjebak dengan akal dan logikanya sendiri, yang mendewakan ilmu pengetahuan lebih dari segala sesuatu, sampai melupakan Tuhan.

Hal kedua yang saya kagumi dari Alkitab, Alkitab adalah kitab yang sangat manusiawi, dekat dengan kesedihan, pergumulan, dan pertanyaan-pertanyaan manusia yang dalam seperti penderitaan, kehilangan, dan hal-hal ga enak lainnya yang dialami. Hal ini terlihat dari kitab Pengkotbah dan Ayub.

Ngomong-ngomong tentang Pengkotbah, ada bagian yang menarik di sini. Kitab Pengkotbah seolah merupakan tanggapan – bahkan sanggahan – terhadap kitab Amsal. Bila diibaratkan dua orang yang berbicara, Amsal ibarat orang yang berkata, “Berbuat baiklah, maka engkau akan hidup aman dan sejahtera!” sedangkan Pengkotbah menyanggahnya, “Sangkamu hidup sesimpel dan seadil itu? Tidakkah kau lihat bahwa banyak orang yang telah berbuat baik namun justru hidup sengsara? Sebaliknya, orang fasik malah hidup enak! Hidup ini sia-sia, sia-sia.” (Pengkotbah 1:2).

Pendek kata, Pengkotbah menunjuk pada realitas hidup yang ada, bahwa hidup ini tidak selalu ideal. Ini adalah kitab yang sangat realistis. Manusia bisa mengusahakan yang terbaik, namun pada dasarnya dia sama sekali tidak berkuasa atas dirinya. Manusia bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan namun lenyap, bagaikan embun di pagi hari yang segera ilang, dan bagaikan rumput liar yang cepat berlalu. Tidak ada gunanya menjadi orang yang sangat pintar atau berpengetahuan, bahkan kitab ini seolah mengejek hikmat dan apa gunanya orang memperoleh banyak hikmat (Peng 1:12-18). Kitab ini bernada pesimistis. Ia mengatakan agar kita menikmati hidup dan berkat yang dikaruniakan Allah, untuk bersukacita, untuk hidup pada saat ini dan tidak khawatir akan masa depan. Tetaplah takut akan Allah karena Dia akan menghakimi setiap perbuatan kita kelak (Peng 12:14).

Bagaimana dengan kitab Ayub? Nah, meskipun letaknya sebelum Amsal, Ayub adalah contoh nyata dari Pengkotbah: orang yang saleh, tapi diijinkan Tuhan hidup menderita. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya pasti tidak asing dengan kitab dan kisah Ayub. Apa yang Pengkotbah katakan seolah dikonfirmasi pada kitab ini, bahwa hidup tidaklah sesimpel aturan emas: berbuat baiklah maka kamu akan menikmati yang baik pula. Namun kisah Ayub juga mengajarkan bahwa Allah jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar daripada segala sesuatu dan prinsip-prinsip di dunia ini. Kita mungkin telah berbuat baik sepanjang hidup kita, tapi kita masih juga menderita, atau Allah ijinkan kita mengalami ujian yang begitu berat. Kisah Ayub juga mengajarkan bahwa justru melalui penderitaan, Allah bisa bekerja. Kuasa-Nya tidak dibatasi oleh penderitaan atau hal-hal buruk di dunia. Malah Ia bisa membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan mengalami Dia dengan cara yang lebih personal, yang tidak bisa kita dapatkan apabila keadaan berjalan baik-baik saja.

Akhir kata, dua alasan itu membuat saya menyimpulkan bahwa Tuhan, melalui kitab-Nya, bukanlah Tuhan yang jauh dari kehidupan kita. Ia tidak meminta kita melepaskan diri dari dunia ini. Ia adalah Allah yang peduli dan berempati akan apa yang kita alami. So, terbukti kan bahwa Alkitab itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? 😉  No wonder it’s called The Book of Life.

Referensi:

Youtube – The Bible Project videos:

  1. “Wisdom Literature: Proverbs, Ecclesiastes, and Job”
  2. “Proverb”
  3. “Ecclesiastes”
  4. “Job”

Why Being Successful at Young Age Is Not Enough?

By: Meiwati – DTS Serpong

Setiap orang di dunia terutama kita sebagai anak muda pasti ingin mencapai yang namanya kesuksesan. Konsep kesuksesan bahkan telah ditanamkan ke alam bawah sadar kita dari keluarga dan dari institusi pendidikan tempat kita bersekolah. Oleh sebab itulah saat kita telah menyelesaikan bangku pendidikan, biasanya kita sebagai anak muda pasti mengejar kesuksesan dan setiap kita pastinya mau dong untuk sukses di usia muda (di bawah 35 tahun). Definisi sukses antara setiap orang pastinya berbeda-beda, tetapi pada umumnya sukses identik dengan memiliki bisnis, karir, atau penghasilan yang bagus (kekayaan).

Ternyata sahabat terdapat satu kebenaran lainnya tentang SUKSES. Sebagai anak muda kita perlu menyadari bahwa menjadi sukses saja tidaklah cukup. Tuhan tidak memanggil kita sebagai anak muda untuk menjadi sukses saja tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi sukses dan signifikan (Success & Significance). Kesuksesan adalah sesuatu yang Tuhan pasti berikan kepada kita sebagai anakNya tetapi kesuksesan kita perlu disertai dengan menjadi signifikan. Signifikan yang dimaksud di sini adalah apa yang kita lakukan haruslah sesuatu yang berarti atau memberi dampak bukan hanya bagi diri kita tetapi bagi orang lain.

Pict 2

Untuk memudahkan sahabat mengingat hal ini, saya menyingkat Success & Significance menjadi huruf double S (SS) atau angka double 5 (55). Konsep Success & Significance, dapat diilustrasikan dengan ilustrasi seorang pendaki gunung. Seorang pendaki gunung yang berhasil adalah seorang yang bukan saja berhasil mencapai puncak gunung (success) tapi juga adalah seorang yang berhasil sampai ke base camp lagi dengan selamat (significance). Ketika seorang pendaki gunung hanya berhasil mencapai puncak gunung tapi tidak berhasil sampai ke base camp kembali maka kesuksesan yang berhasil dicapainya tidaklah menjadi hal yang penting.

Sahabat kita tidak perlu menunggu sampai kita menjadi sukses baru memikirkan signifikansi apa yang ingin kita lakukan tetapi sekaranglah waktunya untuk kita merencanakan signifikansi apa yang ingin kita berikan dalam pekerjaan kita, dalam bisnis, dalam pelayanan, atau dalam hal apapun yang Tuhan percayakan. Sebagai tambahan informasi sahabat, biasanya kata signifikansi barulah dipikirkan manusia saat seseorang memasuki tahap generatifitas vs stagnasi seperti yang dikemukakan oleh Erik Erikson yaitu saat seseorang berusia 50 tahun (middle adult). Tetapi karena kita mengetahui kebenaran dan isi hati Tuhan bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan kita menjadi sukses tetapi DIA mau kita menetapkan suatu tujuan untuk menjadi pribadi yang signifikan (memberi dampak) bagi orang lain. Saat kita memutuskan untuk melakukakannya di usia kita yang masih muda ini, itulah yang dinamakan SUKSES MUDA. (MWG)

Pemimpin Yang Melayani

By Kevin – DTS Surabaya

Matius 20:26-28

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Mengikut Tuhan Yesus bukanlah pekerjaan yang mudah.Banyak sekali hambatan dan godaan yang akan kita lalui.Namun,kita harus memiliki mindset bahwa cobaan ini akan melatih karakter dan integritas kita karena hanya dengan begitulah kita benar benar bisa dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Untuk menjadi pemimpin yang baik kita harus menjadi seorang servant leader.Apa itu servant leader? Servant leader ialah suatu konsep kepemimpinan dimana pemimpin hidup untuk melayani bukan sebaliknya.Seorang servant leader hidup bukan untuk dirinya sendiri namun untuk melayani,menginspirasi dan menjadi teladan bagi orang lain.Sebagai contoh mari kita lihat Yesus Kristus sendiri.Semasa hidupnya Ia menunjukan banyak karakteristik yang memenuhi sifat seorang servant leader yaitu: 

  1. Berfokus kepada melayani orang lain
  2. Membentuk pemimpin pemimpin baru
  3. Mendengarkan
  4. Berempati

Inti daripada menjadi servant leader ialah supaya kita bersama sama bisa melayani bagi pembangunan tubuh kristus (Efesus 4:12)

Sering kali dalam hidup kita terlalu fokus kepada apa yang kita mau,apa yang enak untuk kita sendiri sehingga kita bahkan lupa bahwa kita itu hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain.Padahal bila kita mau mengikut Yesus kita harus menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan mengedepankan kebutuhan orang lain dibanding keinginan diri sendiri.

Bila kita melihat tokoh tokoh seperti Nelson Mandela, Martin Luther King, Ahok,dll kita bisa melihat bahwa mereka bekerja demi orang lain supaya apa yang mereka perbuat bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di sini kita bisa belajar bahwa memimpin itu bukan hanya memberi perintah, mengatur bawahan, atau berkuasa saja namun juga melayani orang lain. Nah, apakah kita sudah menjadi seorang servant leader baik itu dalam hal kecil maupun hal besar? Mari kita renungkan.

OPEN REGISTRATION DTS CAMP 10

2017-05-26 10.06.09 1

Hai teman-teman sekalian!

Apakah kamu pebisnis atau professional? Mungkin, kamu merasa bisnis yang kamu jalankan tidak berkembang, atau kamu merasa pekerjaan kamu tidak sesuai dengan yang kamu inginkan? Mungkinkah ada solusi nya?

Temukan solusi kamu dengan bergabung di Camp DTS 10!

Camp DTS 10 adalah Workshop 2 hari yang akan membantu kamu:
  1. Menemukan panggilan hidup dan passion kamu.
  2. Menggali potensi diri kamu.
  3. Mengetahui cara mengembangkan 6 harta di kehidupan kamu.
  4. Mendapatkan pengetahuan finansial dan manajemen untuk pekerjaan/bisnis kamu.
Itu saja? Oh tentu tidak…. Inilah benefit tambahan yang akan kamu dapat:
  • Network KBC dengan member lebih dari 3.000 orang terdiri dari pebisnis dan professional yang tersebar di kota2 besar di Indonesia.
  • Konsultasi dengan business expert / coach.
  • Support untuk bisnis/pekerjaan kamu
  • Dan masih banyak lagi!
Memangnya siapa sih yang akan jadi pembicara?
  • Ivan T. Putra
    CEO PT. Inti Prakarsa Sejati
    CEO PT. Prakarsa Logistika Indonesia

    Link Profile.jpg

  • Robby Hadisubrata
    Founder of Kepala Bukan Ekor Ministry

    Link Profile

  • Albert Egmond
    CEO Life Talk Asia

    Link Profile

Wahhh, saya mau Join! Caranya bagaimana?

EARLY BIRD REGISTRATION BERLAKU HINGGA 20 AGUSTUS 2017!

Tombol Daftar

Setelah daftar, silahkan ikuti pedoman yang dikirimkan ke email kamu.

That’s it! As easy as 1-2-3, right?

See you guys later at DTS Camp 10!

SUKSES MUDA, PASTI BISA!

 

Open Registration DTS CAMP 2 Semarang

brosur.jpg

HEY KAMU ANAK MUDA !

MASIH GALAU TENTANG MASA DEPAN MU ? Atau…. Mulai usaha tapi ga tau gimana cara ngembanginnya ?

Ini nih 3 masalah besar yang sering dihadapi anak muda :

  1. Bingung cara mengelola keuangan. Uang selalu habis entah kemana padahal pengen buat modal usaha, beli rumah, beli mobil, travelling ke luar negeri, dll
  2. Galau dengan pekerjaan / karir. Apa iya aku harus kerja ikut orang ? Atau aku harus buka usaha sendiri ?
  3. Rasanya hidup kok gini” doang. Ga jelas masa depanku mau ngapain, hidupku cuma mengalir aja

Dare to Succeed community hadir untuk jd SOLUSI KEGALAUANMU !

Pastikan diri kamu ikut dalam CAMP DTS JATENG 2!

Aduh kok mahal ?? Pengen ikut nih, tp bisa kurang ga investasinya ? Bisa banget kok, langsung aja chat kita ya !

Contact Person:
  • Ribka (0817 – 0581 – 304)
  • Daniel (0817 – 0597 – 388)

SUKSES MUDA, PASTI BISA!