Benarkah Alkitab Bertentangan dengan Hidup Sehari-hari? Perspektif dari Ayub, Amsal, dan Pengkotbah

By: Louisa Veronica Hartono – DTS Grogol

Alam bawah sadar kita cenderung berpikir bahwa dunia/alam spiritual (ya elaaah kaya di sinetron aja yak), yang diwakili dalam gereja, Alkitab dan hari Minggu, terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari dari Senin hingga Sabtu, utamanya yang meliputi pekerjaan dan dunia bisnis. Sehingga kita jadi orang saleh hari Minggu, tapi balik jadi orang salah hari Senin sampai Sabtunya.

Nah, dalam 1 bulan terakhir ini saya baru saja menyelesaikan kitab Ayub, Amsal, dan Pengkotbah. Membaca 3 kitab tersebut membuat saya berpikir mengapa Alkitab berbeda dari buku-buku lain, dan mengapa Alkitab sering “diklaim” sebagai buku yang terus laris sepanjang masa. Kenapa? Karena prinsip-prinsipnya sangat relevan dengan kehidupan manusia sepanjang jaman.

Ada dua hal yang sangat saya sukai dari Alkitab. Pertama, dari Alkitab kita belajar bahwa sisi rohani/spiritual sama sekali tidak terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari. Alkitab tidak “bermusuhan” atau mengajarkan kita untuk memisahkan diri (detachment) dari persoalan-persoalan dunia, seperti dalam berbisnis, bergaul dengan orang lain, mencari pasangan hidup, dan berumah tangga.

Gimana taunya? Kitab Amsal mengajarkan hal ini. Seluruh kitab tersebut berisi petuah-petuah, nasihat, ajaran dan anjuran praktis untuk berbuat baik. Tapi yang sangat mengena bagi saya adalah, kitab Amsal menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mengejar HIKMAT. Apa itu hikmat? Definisi dasar dari “Hikmat” atau wisdom adalah penggunaan suatu pengetahuan dengan benar. Lawan dari hikmat adalah kebodohan atau kebebalan (foolishness, folly). Amsal bahkan mempersonifikasikan hikmat sebagai seseorang yang bijak dan berpengetahuan luas yang berdiri di pinggir jalan dan memanggil-manggil orang untuk datang dan belajar darinya. Hikmat dengan gencar mempromosikan dirinya sendiri. Ia mengenalkan dirinya sebagai “pribadi” kesayangan Tuhan, yang telah ada sebelum bumi diciptakan dan bermain-main di pangkuan-Nya (Amsal 8:22-36). Ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada kekayaan sebanyak apapun, dan bahwa orang yang belajar darinya akan mendapat keuntungan yang melebihi emas dan perak. Ia menjanjikan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari dan mengejar dirinya akan mendapat banyak keuntungan, serta dilindungi dari jalan orang fasik, kehancuran, kerugian, dan sengsara-sengsara dalam hidup (Amsal 2-3). Pendek kata, hikmat menyimpulkan bahwa siapa yang mendapatkan dan mencintai dirinya, akan mendapat hidup dan Tuhan berkenan kepada dia (Amsal 8:35).

Saat saya membaca kitab Amsal, saya mendapat impresi bahwa Tuhan, melalui personifikasi Sang Hikmat, sangat-sangat menekankan pentingnya mengejar pengetahuan. Ia tidak ingin kita menjadi orang bodoh, bebal, atau tolol. Justru sebaliknya, yang namanya kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan kemiskinan itu sangat ditentang di Kitab Amsal ini. Namun jangan lantas diartikan bahwa Alkitab mengajarkan kita untuk menuhankan pengetahuan. Sebaliknya, Alkitab berulang kali mengatakan bahwa “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”! (Amsal 1:7).

Dulu saya suka merasa bahwa kalau ikut seminar-seminar tentang bisnis itu kita berdosa, karena kita kurang beriman. Tapi setelah membaca kitab Amsal, pengertian saya diperbarui dan saya tidak merasa tertuduh lagi. Boleh-boleh saja kita mengikuti seminar-seminar bisnis dan pengembangan diri lainnya, asalkan dengan motivasi dan pengertian yang benar, yaitu dilandasi rasa takut akan Tuhan. Nah, disini harus ditekankan juga bahwa rasa takut akan Tuhan bukan rasa takut yang gemetar gitu atau ketakutan, melainkan lebih ke arah penghormatan dan kekaguman yang dalam terhadap Dia (see, untuk bisa mengerti ini perlu hikmat juga lho!).

Rasa takut akan Tuhan itulah yang menjaga kita untuk keep on track. Segala pengetahuan yang didapat bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan digunakan untuk kebaikan sesama dan memperluas kerajaan Allah. Dirinya sendiri juga akan ikut diuntungkan dengan pengetahuan, ilmu, atau pengertian yang didapat, namun fokusnya beda. Diri sendiri bukanlah fokus utama dalam mengejar ilmu itu, melainkan Tuhan dan orang lainlah yang menjadi fokusnya. Ilmu yang didapat digunakan sebagai “senjata” dalam memperlengkapi kita untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di tengah-tengah dunia ini. Tujuannya? Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang! Hal ini berbeda dengan orang-orang pintar tapi atheis yang terjebak dengan akal dan logikanya sendiri, yang mendewakan ilmu pengetahuan lebih dari segala sesuatu, sampai melupakan Tuhan.

Hal kedua yang saya kagumi dari Alkitab, Alkitab adalah kitab yang sangat manusiawi, dekat dengan kesedihan, pergumulan, dan pertanyaan-pertanyaan manusia yang dalam seperti penderitaan, kehilangan, dan hal-hal ga enak lainnya yang dialami. Hal ini terlihat dari kitab Pengkotbah dan Ayub.

Ngomong-ngomong tentang Pengkotbah, ada bagian yang menarik di sini. Kitab Pengkotbah seolah merupakan tanggapan – bahkan sanggahan – terhadap kitab Amsal. Bila diibaratkan dua orang yang berbicara, Amsal ibarat orang yang berkata, “Berbuat baiklah, maka engkau akan hidup aman dan sejahtera!” sedangkan Pengkotbah menyanggahnya, “Sangkamu hidup sesimpel dan seadil itu? Tidakkah kau lihat bahwa banyak orang yang telah berbuat baik namun justru hidup sengsara? Sebaliknya, orang fasik malah hidup enak! Hidup ini sia-sia, sia-sia.” (Pengkotbah 1:2).

Pendek kata, Pengkotbah menunjuk pada realitas hidup yang ada, bahwa hidup ini tidak selalu ideal. Ini adalah kitab yang sangat realistis. Manusia bisa mengusahakan yang terbaik, namun pada dasarnya dia sama sekali tidak berkuasa atas dirinya. Manusia bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan namun lenyap, bagaikan embun di pagi hari yang segera ilang, dan bagaikan rumput liar yang cepat berlalu. Tidak ada gunanya menjadi orang yang sangat pintar atau berpengetahuan, bahkan kitab ini seolah mengejek hikmat dan apa gunanya orang memperoleh banyak hikmat (Peng 1:12-18). Kitab ini bernada pesimistis. Ia mengatakan agar kita menikmati hidup dan berkat yang dikaruniakan Allah, untuk bersukacita, untuk hidup pada saat ini dan tidak khawatir akan masa depan. Tetaplah takut akan Allah karena Dia akan menghakimi setiap perbuatan kita kelak (Peng 12:14).

Bagaimana dengan kitab Ayub? Nah, meskipun letaknya sebelum Amsal, Ayub adalah contoh nyata dari Pengkotbah: orang yang saleh, tapi diijinkan Tuhan hidup menderita. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya pasti tidak asing dengan kitab dan kisah Ayub. Apa yang Pengkotbah katakan seolah dikonfirmasi pada kitab ini, bahwa hidup tidaklah sesimpel aturan emas: berbuat baiklah maka kamu akan menikmati yang baik pula. Namun kisah Ayub juga mengajarkan bahwa Allah jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar daripada segala sesuatu dan prinsip-prinsip di dunia ini. Kita mungkin telah berbuat baik sepanjang hidup kita, tapi kita masih juga menderita, atau Allah ijinkan kita mengalami ujian yang begitu berat. Kisah Ayub juga mengajarkan bahwa justru melalui penderitaan, Allah bisa bekerja. Kuasa-Nya tidak dibatasi oleh penderitaan atau hal-hal buruk di dunia. Malah Ia bisa membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan mengalami Dia dengan cara yang lebih personal, yang tidak bisa kita dapatkan apabila keadaan berjalan baik-baik saja.

Akhir kata, dua alasan itu membuat saya menyimpulkan bahwa Tuhan, melalui kitab-Nya, bukanlah Tuhan yang jauh dari kehidupan kita. Ia tidak meminta kita melepaskan diri dari dunia ini. Ia adalah Allah yang peduli dan berempati akan apa yang kita alami. So, terbukti kan bahwa Alkitab itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? 😉  No wonder it’s called The Book of Life.

Referensi:

Youtube – The Bible Project videos:

  1. “Wisdom Literature: Proverbs, Ecclesiastes, and Job”
  2. “Proverb”
  3. “Ecclesiastes”
  4. “Job”

Why Being Successful at Young Age Is Not Enough?

By: Meiwati – DTS Serpong

Setiap orang di dunia terutama kita sebagai anak muda pasti ingin mencapai yang namanya kesuksesan. Konsep kesuksesan bahkan telah ditanamkan ke alam bawah sadar kita dari keluarga dan dari institusi pendidikan tempat kita bersekolah. Oleh sebab itulah saat kita telah menyelesaikan bangku pendidikan, biasanya kita sebagai anak muda pasti mengejar kesuksesan dan setiap kita pastinya mau dong untuk sukses di usia muda (di bawah 35 tahun). Definisi sukses antara setiap orang pastinya berbeda-beda, tetapi pada umumnya sukses identik dengan memiliki bisnis, karir, atau penghasilan yang bagus (kekayaan).

Ternyata sahabat terdapat satu kebenaran lainnya tentang SUKSES. Sebagai anak muda kita perlu menyadari bahwa menjadi sukses saja tidaklah cukup. Tuhan tidak memanggil kita sebagai anak muda untuk menjadi sukses saja tetapi Tuhan memanggil kita untuk menjadi sukses dan signifikan (Success & Significance). Kesuksesan adalah sesuatu yang Tuhan pasti berikan kepada kita sebagai anakNya tetapi kesuksesan kita perlu disertai dengan menjadi signifikan. Signifikan yang dimaksud di sini adalah apa yang kita lakukan haruslah sesuatu yang berarti atau memberi dampak bukan hanya bagi diri kita tetapi bagi orang lain.

Pict 2

Untuk memudahkan sahabat mengingat hal ini, saya menyingkat Success & Significance menjadi huruf double S (SS) atau angka double 5 (55). Konsep Success & Significance, dapat diilustrasikan dengan ilustrasi seorang pendaki gunung. Seorang pendaki gunung yang berhasil adalah seorang yang bukan saja berhasil mencapai puncak gunung (success) tapi juga adalah seorang yang berhasil sampai ke base camp lagi dengan selamat (significance). Ketika seorang pendaki gunung hanya berhasil mencapai puncak gunung tapi tidak berhasil sampai ke base camp kembali maka kesuksesan yang berhasil dicapainya tidaklah menjadi hal yang penting.

Sahabat kita tidak perlu menunggu sampai kita menjadi sukses baru memikirkan signifikansi apa yang ingin kita lakukan tetapi sekaranglah waktunya untuk kita merencanakan signifikansi apa yang ingin kita berikan dalam pekerjaan kita, dalam bisnis, dalam pelayanan, atau dalam hal apapun yang Tuhan percayakan. Sebagai tambahan informasi sahabat, biasanya kata signifikansi barulah dipikirkan manusia saat seseorang memasuki tahap generatifitas vs stagnasi seperti yang dikemukakan oleh Erik Erikson yaitu saat seseorang berusia 50 tahun (middle adult). Tetapi karena kita mengetahui kebenaran dan isi hati Tuhan bahwa Tuhan tidak hanya menginginkan kita menjadi sukses tetapi DIA mau kita menetapkan suatu tujuan untuk menjadi pribadi yang signifikan (memberi dampak) bagi orang lain. Saat kita memutuskan untuk melakukakannya di usia kita yang masih muda ini, itulah yang dinamakan SUKSES MUDA. (MWG)

Pemimpin Yang Melayani

By Kevin – DTS Surabaya

Matius 20:26-28

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Mengikut Tuhan Yesus bukanlah pekerjaan yang mudah.Banyak sekali hambatan dan godaan yang akan kita lalui.Namun,kita harus memiliki mindset bahwa cobaan ini akan melatih karakter dan integritas kita karena hanya dengan begitulah kita benar benar bisa dipersiapkan untuk menjadi seorang pemimpin.

Untuk menjadi pemimpin yang baik kita harus menjadi seorang servant leader.Apa itu servant leader? Servant leader ialah suatu konsep kepemimpinan dimana pemimpin hidup untuk melayani bukan sebaliknya.Seorang servant leader hidup bukan untuk dirinya sendiri namun untuk melayani,menginspirasi dan menjadi teladan bagi orang lain.Sebagai contoh mari kita lihat Yesus Kristus sendiri.Semasa hidupnya Ia menunjukan banyak karakteristik yang memenuhi sifat seorang servant leader yaitu: 

  1. Berfokus kepada melayani orang lain
  2. Membentuk pemimpin pemimpin baru
  3. Mendengarkan
  4. Berempati

Inti daripada menjadi servant leader ialah supaya kita bersama sama bisa melayani bagi pembangunan tubuh kristus (Efesus 4:12)

Sering kali dalam hidup kita terlalu fokus kepada apa yang kita mau,apa yang enak untuk kita sendiri sehingga kita bahkan lupa bahwa kita itu hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain.Padahal bila kita mau mengikut Yesus kita harus menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan kita dan mengedepankan kebutuhan orang lain dibanding keinginan diri sendiri.

Bila kita melihat tokoh tokoh seperti Nelson Mandela, Martin Luther King, Ahok,dll kita bisa melihat bahwa mereka bekerja demi orang lain supaya apa yang mereka perbuat bisa menjadi berkat bagi orang lain. Di sini kita bisa belajar bahwa memimpin itu bukan hanya memberi perintah, mengatur bawahan, atau berkuasa saja namun juga melayani orang lain. Nah, apakah kita sudah menjadi seorang servant leader baik itu dalam hal kecil maupun hal besar? Mari kita renungkan.

OPEN REGISTRATION DTS CAMP 10

2017-05-26 10.06.09 1

Hai teman-teman sekalian!

Apakah kamu pebisnis atau professional? Mungkin, kamu merasa bisnis yang kamu jalankan tidak berkembang, atau kamu merasa pekerjaan kamu tidak sesuai dengan yang kamu inginkan? Mungkinkah ada solusi nya?

Temukan solusi kamu dengan bergabung di Camp DTS 10!

Camp DTS 10 adalah Workshop 2 hari yang akan membantu kamu:
  1. Menemukan panggilan hidup dan passion kamu.
  2. Menggali potensi diri kamu.
  3. Mengetahui cara mengembangkan 6 harta di kehidupan kamu.
  4. Mendapatkan pengetahuan finansial dan manajemen untuk pekerjaan/bisnis kamu.
Itu saja? Oh tentu tidak…. Inilah benefit tambahan yang akan kamu dapat:
  • Network KBC dengan member lebih dari 3.000 orang terdiri dari pebisnis dan professional yang tersebar di kota2 besar di Indonesia.
  • Konsultasi dengan business expert / coach.
  • Support untuk bisnis/pekerjaan kamu
  • Dan masih banyak lagi!
Memangnya siapa sih yang akan jadi pembicara?
  • Ivan T. Putra
    CEO PT. Inti Prakarsa Sejati
    CEO PT. Prakarsa Logistika Indonesia

    Link Profile.jpg

  • Robby Hadisubrata
    Founder of Kepala Bukan Ekor Ministry

    Link Profile

  • Albert Egmond
    CEO Life Talk Asia

    Link Profile

Wahhh, saya mau Join! Caranya bagaimana?

EARLY BIRD REGISTRATION BERLAKU HINGGA 20 AGUSTUS 2017!

Tombol Daftar

Setelah daftar, silahkan ikuti pedoman yang dikirimkan ke email kamu.

That’s it! As easy as 1-2-3, right?

See you guys later at DTS Camp 10!

SUKSES MUDA, PASTI BISA!

 

Open Registration DTS CAMP 2 Semarang

brosur.jpg

HEY KAMU ANAK MUDA !

MASIH GALAU TENTANG MASA DEPAN MU ? Atau…. Mulai usaha tapi ga tau gimana cara ngembanginnya ?

Ini nih 3 masalah besar yang sering dihadapi anak muda :

  1. Bingung cara mengelola keuangan. Uang selalu habis entah kemana padahal pengen buat modal usaha, beli rumah, beli mobil, travelling ke luar negeri, dll
  2. Galau dengan pekerjaan / karir. Apa iya aku harus kerja ikut orang ? Atau aku harus buka usaha sendiri ?
  3. Rasanya hidup kok gini” doang. Ga jelas masa depanku mau ngapain, hidupku cuma mengalir aja

Dare to Succeed community hadir untuk jd SOLUSI KEGALAUANMU !

Pastikan diri kamu ikut dalam CAMP DTS JATENG 2!

Aduh kok mahal ?? Pengen ikut nih, tp bisa kurang ga investasinya ? Bisa banget kok, langsung aja chat kita ya !

Contact Person:
  • Ribka (0817 – 0581 – 304)
  • Daniel (0817 – 0597 – 388)

SUKSES MUDA, PASTI BISA!

Things to Invest Before 30s

By: Samuel (Serpong)

Sudah menjadi trend dimana sekarang anak muda mengejar investasi, terutama saham dan property. Dengan gaya hidup sosial yang tinggi, anak muda seperti memiliki kebutuhan untuk memiliki penghasilan yang besar. Namun, apakah hanya investasi dalam hal uang saja yang perlu dikejar?

INVEST IN FAMILY

4.jpg

Keluarga adalah hal yang paling riil yang kita miliki. Untuk apa kita sukses di luar sana tapi keluarga kita berantakan?

Investasi waktu untuk keluarga membuat kita semakin mengenal siapa yang membesarkan kita. Ketika kita mengenal keluarga kita, kita bisa membuat mereka bahagia, bukan hanya dengan seberapa besar uang di dalam rekening, tapi sesederhana dengan kehadiran kita di saat mereka membutuhkan. Sempatkan waktu untuk mentraktir mereka makan. Berbicaralah dengan mereka, ceritakan pekerjaan dan mimpi kita, mintalah doa dari mereka. Berikan juga kesediaan untuk membantu mereka.

Kita akan memiliki pemikiran positif dalam menghadapi hidup kita. Kita lebih mudah untuk melihat mana yang penting. Dan bagusnya lagi, wanita jaman sekarang sedang mencari seorang family man, so bagi para cowok, buktikan kamu tangguh juga dalam keluarga.

INVEST IN GOOD COMMUNITY

Komunitas yang tepat dapat membantu membentuk kepribadian kita, yang tentunya adalah dasar dari kesuksesan itu sendiri. Kita bisa memilih untuk ada di komunitas gereja, bisnis, komunitas pecinta alam, dan lain sebagainya.

Namun tidak cukup hanya sekedar berada di dalamnya. Kita tidak bisa hanya berpikir apa yang bisa diambil yang bisa menbantu mencapai tujuan hidup kita.

Pertumbuhan kepribadian kita jauh lebih bermakna ketimbang sekedar ilmu. Marketplace mencari mereka yang memiliki value yang baik, nama yang baik, dan hampir semuanya datang dari networking komunitas yang baik. Reputasi kita dalam komunitas seringkali menjadi referensi utama seseorang untuk mendapatkan project atau bertumbuh dalam karir.

3

INVEST IN YOURSELF

Yes! Investasi terbaik yang pasti akan memiliki ROI paling besar adalah investasi diri sendiri. Banyak hal yang bisa kita kembangkan dalam diri kita, yang jauh lebih penting dari sekedar mengumpulkan uang banyak.

2

Sebagai seniman, saya sering bertemu dengan orang yang passionate mengembangkan diri, dan mereka memiliki semangat hidup yang luar biasa. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi benarbenar menjadi dampak di marketplace yang mereka tekuni. Ada perbedaan besar saat bertukar pikiran dengan orang-orang ini, ketimbang dengan mereka yang memiliki mindset menghasilkan uang sebanyak mungkin dalam waktu sesingkat mungkin.

Invest dalam diri sendiri berarti meluangkan waktu, tenaga, dan tentunya uang untuk mengembangkan diri kita lebih jauh lagi. Ambil beberapa workshop, belajar dari seminar-seminar, baca buku yang bisa memberikan kita kemampuan lebih baik dalam berkarir/bisnis. Luangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk mengeksplorasi kemampuanmu. Mungkin terkesan lama, tapi percayalah dengan waktu terbang yang banyak, kita dapat menghasilkan produk/jasa yang lebih baik dibanding yang tidak mengembangkan dirinya dengan baik. Plus, dengan semakin luas wawasan kita, semakin banyak kesempatan yang terbuka.

Sebagai anak Tuhan, kita tidak perlu membandingkan diri kita dengan orang lain, karena yang paling penting adalah membandingkan diri kita saat ini dengan hari kemarin. Keep loyal with the process!

Miskomunikasi atau Kepahitan?

By: Rinardi (Grogol)

Matius 12:25-28

27 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul…

Ibrani 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Kita sering mendengar Beelzebul atau Beelzebub atau Beel-Zebub ( Hebrew: בְְבְז ַלַב ב) diartikan sebagai penghulu iblis, tapi ternyata jika diartikan dari bahasa aslinya berarti “lord of the flies” alias raja lalat. Di dalam perumpamaan Yesus Beelzebul dikaitkan dengan spirit perpecahan. Terus apa hubungannya si raja lalat dengan perpecahan ya?

Kalau kita pelajari ternyata lalat selain suka banget sama tempat sampah yang kotor dan bangkai, lalat juga suka banget sama yang namanya borok / luka yang menganga sebagai media dia untuk berkembang biak. Makannya ada produk namanya hansaplast kan buat supaya luka ga jadi borok.

Nah tidak hanya tubuh yang bisa terluka, tapi secara roh dan jiwa kitapun bisa mengalami namanya terluka dan sayangnya luka itu ga bisa keliatan dari luar kecuali ada keterbukaan. Menariknya si lalat (iblis) demen banget sama namanya luka yang ga ditutup! Dia akan buat luka itu menjadi borok dan media dia untuk bisa bekerja sehingga objek lama-lama menjadi MATI & MEMBUSUK!

Sadarkah kita bahwa ketika hati kita terluka maka itu akan menjadi pintu gerbang kehancuran hidup kita jika tidak dibereskan? Seringkali kita berpikir bahwa masalah hanya pada miss communication. Padalah miskomunikasi bukanlah akar dari rusaknya hubungan kita dengan sesama. Tapi akar dari kerusakan hubungan adalah luka kepahitan yang TIDAK DIBERESKAN.

Seringkali kita berusaha begitu keras untuk memperbaiki cara komunikasi kita kepada orang yang padanya kita menyimpan kepahitan dan seringkali ga berhasil kan?

Apa sih kunci supaya sembuh? Check this out  >>>

Ibrani 4:16

Sepahit apapun hati kita saat ini mari datang terlebih dulu ke takhta kasih karunia Tuhan untuk disembuhkan baru kemudian bereskan konflik dengan manusianya

So jika hati kita mulai ada “lecet” luka hati atau bahkan “borok” kepahitan udah bernanah dengan partner bisnis, rekan kerja (atasan or bawahan), rekan pelayanan atau bahkan mungkin keluarga kita, mari dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia yang menyembuhkan dan memampukan kita untuk mengasihi sama seperti Tuhan mengasihi.

Di Saat Badai Bergelora, ku Akan Tenang Bersama-Mu

By: Yuliana (Sunter)

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah hampir sembilan bulan saya menjalani hidup yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, mimpi pun tak pernah..

Setelah pemakaman selesai, perasaan kehilangan dan sedih begitu mendalam, mendadak  rumah menjadi sepi, hati menjadi kosong, yang ada hanya airmata yg tak henti mengalir.. Tiada lagi tempat bercerita dan berbagi..

Sedih teramat sedih, setiap sudut rumah mengingatkan banyak kenangan tentang dia. Sulit untuk berpikir apa yg harus dilakukan ke depan. Semua terasa hampa. Badai itu menghempaskan pilu hingga ke dasar laut.

Saya berusaha tegar dan kuat demi anak-anak tetapi kehilangan dalam sekejap membuat saya hancur hati dan terbawa arus lautan airmata setiap hari. Saya tau Tuhan itu baik dan rencanaNya selalu indah namun saat itu benar-benar sulit bagi saya untuk mengerti rancanganNya. Bersyukur tidak sampai terlintas pikiran untuk menyalahkan Tuhan atau mempertanyakan  mengapa ini terjadi pada kami. Saya ikhlas menerima semuanya. Ketidaksiapan menghadapi kesendirian yang membuat saya terus menangis karena biasanya semua dilakukan bersama-sama dan harta keluarga sangat kami jaga. “Apakah saya akan kuat menghadapinya seorang diri?” Pertanyaan ini terus berputar-putar di kepala.

Meskipun sedemikian hancurnya hati, saya berusaha tidak menunjukkan di depan anak-anak, saya tidak ingin mereka ikut tenggelam dalam duka yang berlarut. Mereka harus tetap semangat menjalani hidup dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Setiap pagi saya melihat anakanak tetap membaca firman Tuhan dan berdoa, tidak pernah absen sehari pun. Saya terharu melihat ketaatan mereka. Inilah warisan yang ditinggalkan Papinya.

Hingga suatu malam memasuki bulan kedua, saya kumpulkan anak-anak kami berdoa bergandengan tangan bersama. Kami semua menangis, kami kangen Papi. Kami sungguh butuh kekuatan dari Tuhan untuk melalui masa-masa berkabung ini. Kami perlu hikmat Tuhan menjalani hari-hari mendatang. Tidak ada tempat kami bersandar kecuali Tuhan. Lepas dan lega sekali malam itu.. rasanya puas menangis di bawah kaki Tuhan.

Saya sadar tidak mungkin sedih terus menerus. Saya harus bangkit, saya harus tegar sebagai kepala keluarga tunggal. Jika Tuhan ijinkan terjadi pasti Tuhan akan beri kekuatan untuk menghadapinya. Filipi 4: 13 saya imani dan perkatakan. Disitulah semangat saya timbul kembali bak matahari diufuk timur. Kami kehilangan Papi tercinta tetapi kami tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Dia pasti menyertai kami dalam setiap musim dan kami bertiga harus bahu membahu serta harus tetap bahagia baik dalam suka maupun duka. Dengan segenap tenaga saya kumpulkan sisa-sisa semangat yang ada menjadi semangat baru, saya mulai perincikan apa yg harus saya lakukan kedepan untuk menata hidup saya yang baru.

Sebagai seorang Psikolog tentu saya mengetahui cara mengatasi rasa duka tetapi yang saya mau adalah biarlah semuanya berjalan secara alami dan mengandalkan Tuhan untuk melepaskan perasaan itu. Setiap pagi yang terpenting adalah mencari hadirat-Nya, saya butuh dituntun oleh hikmatNya. Tak putus2nya saya berdoa agar Tuhan melimpahkan hikmat dan kekuatan extra bagi saya untuk meneruskan bisnis almarhum suami dan menjalankan bisnis saya sendiri. Saya kembali fokus pada destiny/blue print hidup yang telah Tuhan tetapkan untuk saya. Saya tau tujuan saya diciptakan baik sebagai seorang wanita, seorang ibu maupun sebagai seorang psikolog. Hanya Kekuatan dan penghiburan dari Tuhanlah yang memampukan saya bekerja dengan antusias melayani banyak anak/keluarga dan dengan kesibukan itu membuat saya melupakan kesedihan. Saya juga tetap pelayanan di Bizcom dengan penuh sukacita dan  jalani hari-hari bersama anak-anak dengan penuh ucapan syukur. Di dalam perjalanan inilah, Tuhan mendengar doa-doa saya, banyak perkara-perkara ajaib Tuhan lakukan, saya banyak dipertemukan dengan orang-orang tulus yang bersedia bekerja sama dengan bisnis saya. Tuhan tuntun saya dari hari ke hari. Iman saya pun smakin bertumbuh. Yang saya pandang hanya Yesus dan janji-janjiNya. Saat saya mengerjakan bagian saya maka Tuhan pun mengerjakan bagianNya.

Prestasi akademik dan sosialisasi anak-anak  juga berjalan dengan baik. Mereka tetap ceria, komunikasi kami tetap lancar dan hangat. Nilai-nilai yang saya hidupi terus saya bagikan kepada mereka dalam setiap percakapan kami, Hubungan kami pun semakin kompak dan selalu ada waktu untuk doa bersama. Puji Tuhan badai terhebat dalam hidup kami mampu dilewati dengan tenang bersama-Mu ya Bapa. Bertahun-tahun tertanam di Bizcom mengajarkan saya tetap berpusatkan pada Allah dalam situasi apapun dan terus bertumbuh didalam kebenaran dan kepedulian bukan hanya didalam bisnis tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Hanya dengan melakukan ke tiga hal inilah saya tetap mendapatkan aliran damai sejahtera dan sukacita  ditengah badai yang  bergelora.

Saat ini hati dan pikiran kami jauh lebih pulih, kehidupan kami kembali dipenuhi canda tawa meskipun rasa kehilangan itu tetap ada namun firman-Nya menguatkan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Amin… Thank you Lord

Sturdy Backrest

By: Nissia Paramitha (Grogol)

Kemarin saya tidak bisa tidur. Jadilah saya bangun lagi, berusaha mencari “kegiatan”.

Waktu menunjukkan Pk 01.00 dini hari.

Saya membuka diary saya yang ada di laci meja. Buku ini adalah teman terbaik saya (selain Tuhan, tentunya).

Lalu, muncullah sebuah ide.  Saya berusaha menuliskan nama-nama teman terbaik yang saya punya selama ini. Kelihatannya ini sedikit sulit karena saya bukan orang super outgoing yang punya banyak teman.  Mereka biasanya yang mempunyai alur pikiran yang sama dengan saya, atau setidaknya, mirip lah, yang biasanya bisa jadi teman baik saya.

Hmm… List dimulai. Pertama, si A…

Kedua, si B…

Ketiga… Hmmm siapa ya.. Hmm… rasanya dia bukan teman baik saya. Hmm… Hmm…

Ternyata memang tidak mudah bagi saya untuk menemukan yang terbaik diantara yang baik.

Lalu, sejenak saya berpikir. Mengapa saya menggolongkan si A teman baik dan yang lain bukan? Dari mana tolok ukurnya? Tentunya ini subjektif, kan? Pakai perasaan saja.. Tapi mungkin juga tolok ukurnya dari jawaban, “Ke manakah kamu bercerita tentang masalah-masalah yang kamu hadapi?”

Lalu, saya mengingat beberapa teman yang diantaranya memang pernah saya “curhati”. Beberapa dari mereka tidak terlalu bisa menanggapi cerita saya dengan baik. Entah saya bisa menilainya dari sikapnya ataupun reaksinya. Pokoknya, saya bisa merasakan siapa yang akhirnya bisa menjadi teman baik. Pasti semua orang juga begitu, kan? Feeling kadang memang lebih kuat.

Karena kebingungan, saya membuka halaman di diary yang lain. Saya menemukan tulisan saya sendiri yang berbunyi, “There is one time that you really feels everybody is disappointing. But God will feel the way you feel.”

Ternyata, memang tak ada sahabat yang sesetia Tuhan Yesus

Kemudian hati saya seperti diingatkan, apakah kamu menganggap Tuhan adalah teman baikmu sehingga apapun yang kamu alami kamu cerita ke Dia terlebih dahulu sebelum ke yang lain? Karena ini adalah fondasi dari segala-galanya bahwa Dia harus dilibatkan dalam segala sesuatunya, sampai hal yang paling sepele sekalipun.

Dari mana level iman ditentukan? Tentu dari kedekatannya dengan Tuhan. Bagaimana kamu menganggap Tuhan adalah teman dekatmu kalau saat ada apa-apa, kamu nggak langsung “lari” ke Dia?

“Ah, kan Tuhan juga udah tau masalah kita walaupun kita gak pernah cerita…”

Beda loh. Tuhan Maha Tau, tapi Dia nggak mau tahu sama orang-orang yang nggak pengen tahu. Jadi poinnya ada di kitanya, apakah kita mencari Dia atau nggak. Ketika kita punya masalah dan kita dateng ke Tuhan, Tuhan pasti seneng karena anakNya mencari Dia.  So, let’s keep our good relationship with God!

Mengajar Anak Mengelola Keuangan

By: Eko Kurniawan Soejono (Serpong)

Mungkin Anda sering mendengar ocehan orang tua jika malas bekerja dengan kata “Uang tidak mungkin jatuh dari langit”. Iya, hal tersebut sangat mustahil terwujud di dunia ini, dan hanya ada di cerita dongeng saja.

Lalu bagaimana cara menjelaskan kepada anak Anda jika anak Anda bertanya kenapa uang bisa keluar dari mesin ATM ?

Coba Anda ambil sedikit waktu untuk menjelaskan kepada anak bahwa mesin ATM itu seperti celengan.  Jelaskan bahwa di dalam mesin ATM itu ada uang yang bisa diambil hanya kalau kita mengisinya terlebih dahulu  dan kalau uang itu diambil maka jumlahnya akan berkurang.

Mengapa mengajar anak mengelola keuangan sangat penting ?

Karena kemampuan mengelola keuangan adalah sebuah life skill yang  sangat menentukan kesuksesan seseorang.

Tapi saya bukan orang tua yg punya latar belakang keuangan, mungkin kata seorang ibu.

Jangan khawatir, karena saat ini banyak bahan pengajaran keuangan sudah banyak dan mudah di dapatkan, yang kita perlukan adalah waktu dan komitmen

Mendidik anak tentang manajemen keuangan mulai dari yang paling sederhana. Bagaimana caranya?

 

  • Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Ajari anak Anda bahwa cara mendapatkan uang adalah dengan cara bekerja.

Beritahu kepada anak Anda bahwa uang itu milik Tuhan kita hanya pengelola. Ajari anak Anda untuk memberi kepada Tuhan dan berbagi dengan teman/keluarga yang sedang membutuhkan.

  • Tunjukkan Tempat kerja Anda

Anak Anda mungkin pernah mendengar kantor mama atau kantor papa, tapi mereka tidak tahu seperti apa tempatnya sampai mereka melihat sendiri dan melihat apa yang Anda lakukan setiap hari untuk mendapatkan uang.  Pada waktu libur sekolah yang lalu, saya mengajak anak kami ketempat kerja saya. Anak kami merasakan jarak menuju lokasi kerja tidak mudah dan melihat ruang kerja saya . Dan pada akhirnya anak kami belajar bahwa saya menghabiskan waktu di tempat kerja untuk mendapatkan uang bagi keluarga.

  • Bayar mereka kalau mereka membantu Anda

Walaupun Anda tidak seharusnya membayar anak Anda bila melakukan tugas rumah sehari-hari,

Anda bisa memberikan bonus bila mereka melakukan tugas tambahan (di luar kewajiban rumah mereka).

Dengan begitu, mereka akan punya gambaran tentang bekerja dan mendapat uang dalam dunia real sehari-hari.

Untuk mengisi waktu senggangya, anak kami pernah saya suruh untuk mencuci motor. Dan betapa senangnya ketika saya memberi uang bonus.

  • Berpikir sebelum mengeluarkan uang

Beri tahu anak Anda bahwa sebelum Anda mengeluarkan dompet dan uang, Anda harus berpikir dulu. Anda mungkin harus membuat budget dulu sebelumnya. Tentu saja penjelasan ini disesuaikan dengan usia anak.  Ajari mereka untuk mengutamakan memenuhi kebutuhan baru kalau ada sisa untuk keinginan.

Suatu hari anak kami minta aquarium, kemudian saya mengajukan pertanyaan, apakah itu kebutuhan atau keinginan, apakah aquarium harus di beli sekarang dan akhirnya kami memutuskan untuk menabung dahulu baru beli aquarium.

  • Membuat daftar belanja bersama

Anak-anak mungkin belum bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Oleh karena itu Anda yang harus mengenalkan konsep ini pada mereka.

Kami memulainya dengan kebutuhan sehari-harinya seperti odol shampo sabun mandi yang biasa digunakan anak.

  • Biarkan anak belanja sendiri

Ketika anak Anda memasuki usia pra-sekolah, Anda bisa mengajak mereka belanja dan berikan

dia uang secukupnya untuk membeli apa saja yang dia mau. Tapi Anda tetap punya hak veto untuk melarang atau mengizinkan dia membeli suatu barang tertentu.

Setelah membuat daftar belanjaan yang sudah kami sepakati, anak kami belanja sesuai dengan daftar yang ada. Kalau mereka ingin barang tertentu yang harganya di atas uang yang Anda berikan dan mereka minta uang tambahan, jangan diberi.

  • Berbagi rahasia belanja

Ajari anak Anda rahasia Anda ketika memilih barang, kenapa Anda memilih barang itu, apakah karena harganya, kualitasnya, atau karena ada diskon, dll.

Ketika anak kami minta pensil di supermarket, saya memberitahukan bahwa kalau beli alat tulis sekolah bukan di supermarket, kalau beli di toko alat tulis dekat sekolah, dapat barang yang bagus dengan harga yang lebih murah.

Mari secara konsisten kita libatkan anak kita ketika kita mengajarkan konsep keuangan.

Anak kita masih melakukan kesalahan ? lebih baik mereka membuat kesalahan keuangan sekarang, daripada ketika mereka sudah dewasa. Kita sedang mengajarkan kesadaran dan persiapan keuangan dalam diri anak kita, jadi ini butuh waktu dan usaha yang banyak.

Ayo, kita nikmati mengajar keuangan pada anak kita!