Benarkah Alkitab Bertentangan dengan Hidup Sehari-hari? Perspektif dari Ayub, Amsal, dan Pengkotbah


By: Louisa Veronica Hartono – DTS Grogol

Alam bawah sadar kita cenderung berpikir bahwa dunia/alam spiritual (ya elaaah kaya di sinetron aja yak), yang diwakili dalam gereja, Alkitab dan hari Minggu, terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari dari Senin hingga Sabtu, utamanya yang meliputi pekerjaan dan dunia bisnis. Sehingga kita jadi orang saleh hari Minggu, tapi balik jadi orang salah hari Senin sampai Sabtunya.

Nah, dalam 1 bulan terakhir ini saya baru saja menyelesaikan kitab Ayub, Amsal, dan Pengkotbah. Membaca 3 kitab tersebut membuat saya berpikir mengapa Alkitab berbeda dari buku-buku lain, dan mengapa Alkitab sering “diklaim” sebagai buku yang terus laris sepanjang masa. Kenapa? Karena prinsip-prinsipnya sangat relevan dengan kehidupan manusia sepanjang jaman.

Ada dua hal yang sangat saya sukai dari Alkitab. Pertama, dari Alkitab kita belajar bahwa sisi rohani/spiritual sama sekali tidak terpisah dengan kehidupan kita sehari-hari. Alkitab tidak “bermusuhan” atau mengajarkan kita untuk memisahkan diri (detachment) dari persoalan-persoalan dunia, seperti dalam berbisnis, bergaul dengan orang lain, mencari pasangan hidup, dan berumah tangga.

Gimana taunya? Kitab Amsal mengajarkan hal ini. Seluruh kitab tersebut berisi petuah-petuah, nasihat, ajaran dan anjuran praktis untuk berbuat baik. Tapi yang sangat mengena bagi saya adalah, kitab Amsal menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk mengejar HIKMAT. Apa itu hikmat? Definisi dasar dari “Hikmat” atau wisdom adalah penggunaan suatu pengetahuan dengan benar. Lawan dari hikmat adalah kebodohan atau kebebalan (foolishness, folly). Amsal bahkan mempersonifikasikan hikmat sebagai seseorang yang bijak dan berpengetahuan luas yang berdiri di pinggir jalan dan memanggil-manggil orang untuk datang dan belajar darinya. Hikmat dengan gencar mempromosikan dirinya sendiri. Ia mengenalkan dirinya sebagai “pribadi” kesayangan Tuhan, yang telah ada sebelum bumi diciptakan dan bermain-main di pangkuan-Nya (Amsal 8:22-36). Ia mengatakan bahwa dirinya jauh lebih berharga daripada kekayaan sebanyak apapun, dan bahwa orang yang belajar darinya akan mendapat keuntungan yang melebihi emas dan perak. Ia menjanjikan bahwa orang yang sungguh-sungguh mencari dan mengejar dirinya akan mendapat banyak keuntungan, serta dilindungi dari jalan orang fasik, kehancuran, kerugian, dan sengsara-sengsara dalam hidup (Amsal 2-3). Pendek kata, hikmat menyimpulkan bahwa siapa yang mendapatkan dan mencintai dirinya, akan mendapat hidup dan Tuhan berkenan kepada dia (Amsal 8:35).

Saat saya membaca kitab Amsal, saya mendapat impresi bahwa Tuhan, melalui personifikasi Sang Hikmat, sangat-sangat menekankan pentingnya mengejar pengetahuan. Ia tidak ingin kita menjadi orang bodoh, bebal, atau tolol. Justru sebaliknya, yang namanya kebodohan, kebebalan, kemalasan, dan kemiskinan itu sangat ditentang di Kitab Amsal ini. Namun jangan lantas diartikan bahwa Alkitab mengajarkan kita untuk menuhankan pengetahuan. Sebaliknya, Alkitab berulang kali mengatakan bahwa “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”! (Amsal 1:7).

Dulu saya suka merasa bahwa kalau ikut seminar-seminar tentang bisnis itu kita berdosa, karena kita kurang beriman. Tapi setelah membaca kitab Amsal, pengertian saya diperbarui dan saya tidak merasa tertuduh lagi. Boleh-boleh saja kita mengikuti seminar-seminar bisnis dan pengembangan diri lainnya, asalkan dengan motivasi dan pengertian yang benar, yaitu dilandasi rasa takut akan Tuhan. Nah, disini harus ditekankan juga bahwa rasa takut akan Tuhan bukan rasa takut yang gemetar gitu atau ketakutan, melainkan lebih ke arah penghormatan dan kekaguman yang dalam terhadap Dia (see, untuk bisa mengerti ini perlu hikmat juga lho!).

Rasa takut akan Tuhan itulah yang menjaga kita untuk keep on track. Segala pengetahuan yang didapat bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan digunakan untuk kebaikan sesama dan memperluas kerajaan Allah. Dirinya sendiri juga akan ikut diuntungkan dengan pengetahuan, ilmu, atau pengertian yang didapat, namun fokusnya beda. Diri sendiri bukanlah fokus utama dalam mengejar ilmu itu, melainkan Tuhan dan orang lainlah yang menjadi fokusnya. Ilmu yang didapat digunakan sebagai “senjata” dalam memperlengkapi kita untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di tengah-tengah dunia ini. Tujuannya? Untuk memenangkan sebanyak mungkin orang! Hal ini berbeda dengan orang-orang pintar tapi atheis yang terjebak dengan akal dan logikanya sendiri, yang mendewakan ilmu pengetahuan lebih dari segala sesuatu, sampai melupakan Tuhan.

Hal kedua yang saya kagumi dari Alkitab, Alkitab adalah kitab yang sangat manusiawi, dekat dengan kesedihan, pergumulan, dan pertanyaan-pertanyaan manusia yang dalam seperti penderitaan, kehilangan, dan hal-hal ga enak lainnya yang dialami. Hal ini terlihat dari kitab Pengkotbah dan Ayub.

Ngomong-ngomong tentang Pengkotbah, ada bagian yang menarik di sini. Kitab Pengkotbah seolah merupakan tanggapan – bahkan sanggahan – terhadap kitab Amsal. Bila diibaratkan dua orang yang berbicara, Amsal ibarat orang yang berkata, “Berbuat baiklah, maka engkau akan hidup aman dan sejahtera!” sedangkan Pengkotbah menyanggahnya, “Sangkamu hidup sesimpel dan seadil itu? Tidakkah kau lihat bahwa banyak orang yang telah berbuat baik namun justru hidup sengsara? Sebaliknya, orang fasik malah hidup enak! Hidup ini sia-sia, sia-sia.” (Pengkotbah 1:2).

Pendek kata, Pengkotbah menunjuk pada realitas hidup yang ada, bahwa hidup ini tidak selalu ideal. Ini adalah kitab yang sangat realistis. Manusia bisa mengusahakan yang terbaik, namun pada dasarnya dia sama sekali tidak berkuasa atas dirinya. Manusia bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan namun lenyap, bagaikan embun di pagi hari yang segera ilang, dan bagaikan rumput liar yang cepat berlalu. Tidak ada gunanya menjadi orang yang sangat pintar atau berpengetahuan, bahkan kitab ini seolah mengejek hikmat dan apa gunanya orang memperoleh banyak hikmat (Peng 1:12-18). Kitab ini bernada pesimistis. Ia mengatakan agar kita menikmati hidup dan berkat yang dikaruniakan Allah, untuk bersukacita, untuk hidup pada saat ini dan tidak khawatir akan masa depan. Tetaplah takut akan Allah karena Dia akan menghakimi setiap perbuatan kita kelak (Peng 12:14).

Bagaimana dengan kitab Ayub? Nah, meskipun letaknya sebelum Amsal, Ayub adalah contoh nyata dari Pengkotbah: orang yang saleh, tapi diijinkan Tuhan hidup menderita. Orang-orang yang pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya pasti tidak asing dengan kitab dan kisah Ayub. Apa yang Pengkotbah katakan seolah dikonfirmasi pada kitab ini, bahwa hidup tidaklah sesimpel aturan emas: berbuat baiklah maka kamu akan menikmati yang baik pula. Namun kisah Ayub juga mengajarkan bahwa Allah jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih besar daripada segala sesuatu dan prinsip-prinsip di dunia ini. Kita mungkin telah berbuat baik sepanjang hidup kita, tapi kita masih juga menderita, atau Allah ijinkan kita mengalami ujian yang begitu berat. Kisah Ayub juga mengajarkan bahwa justru melalui penderitaan, Allah bisa bekerja. Kuasa-Nya tidak dibatasi oleh penderitaan atau hal-hal buruk di dunia. Malah Ia bisa membawa kita lebih dekat kepada-Nya dan mengalami Dia dengan cara yang lebih personal, yang tidak bisa kita dapatkan apabila keadaan berjalan baik-baik saja.

Akhir kata, dua alasan itu membuat saya menyimpulkan bahwa Tuhan, melalui kitab-Nya, bukanlah Tuhan yang jauh dari kehidupan kita. Ia tidak meminta kita melepaskan diri dari dunia ini. Ia adalah Allah yang peduli dan berempati akan apa yang kita alami. So, terbukti kan bahwa Alkitab itu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? 😉  No wonder it’s called The Book of Life.

Referensi:

Youtube – The Bible Project videos:

  1. “Wisdom Literature: Proverbs, Ecclesiastes, and Job”
  2. “Proverb”
  3. “Ecclesiastes”
  4. “Job”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s