Di Saat Badai Bergelora, ku Akan Tenang Bersama-Mu


By: Yuliana (Sunter)

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan. Tanpa terasa sudah hampir sembilan bulan saya menjalani hidup yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, mimpi pun tak pernah..

Setelah pemakaman selesai, perasaan kehilangan dan sedih begitu mendalam, mendadak  rumah menjadi sepi, hati menjadi kosong, yang ada hanya airmata yg tak henti mengalir.. Tiada lagi tempat bercerita dan berbagi..

Sedih teramat sedih, setiap sudut rumah mengingatkan banyak kenangan tentang dia. Sulit untuk berpikir apa yg harus dilakukan ke depan. Semua terasa hampa. Badai itu menghempaskan pilu hingga ke dasar laut.

Saya berusaha tegar dan kuat demi anak-anak tetapi kehilangan dalam sekejap membuat saya hancur hati dan terbawa arus lautan airmata setiap hari. Saya tau Tuhan itu baik dan rencanaNya selalu indah namun saat itu benar-benar sulit bagi saya untuk mengerti rancanganNya. Bersyukur tidak sampai terlintas pikiran untuk menyalahkan Tuhan atau mempertanyakan  mengapa ini terjadi pada kami. Saya ikhlas menerima semuanya. Ketidaksiapan menghadapi kesendirian yang membuat saya terus menangis karena biasanya semua dilakukan bersama-sama dan harta keluarga sangat kami jaga. “Apakah saya akan kuat menghadapinya seorang diri?” Pertanyaan ini terus berputar-putar di kepala.

Meskipun sedemikian hancurnya hati, saya berusaha tidak menunjukkan di depan anak-anak, saya tidak ingin mereka ikut tenggelam dalam duka yang berlarut. Mereka harus tetap semangat menjalani hidup dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Setiap pagi saya melihat anakanak tetap membaca firman Tuhan dan berdoa, tidak pernah absen sehari pun. Saya terharu melihat ketaatan mereka. Inilah warisan yang ditinggalkan Papinya.

Hingga suatu malam memasuki bulan kedua, saya kumpulkan anak-anak kami berdoa bergandengan tangan bersama. Kami semua menangis, kami kangen Papi. Kami sungguh butuh kekuatan dari Tuhan untuk melalui masa-masa berkabung ini. Kami perlu hikmat Tuhan menjalani hari-hari mendatang. Tidak ada tempat kami bersandar kecuali Tuhan. Lepas dan lega sekali malam itu.. rasanya puas menangis di bawah kaki Tuhan.

Saya sadar tidak mungkin sedih terus menerus. Saya harus bangkit, saya harus tegar sebagai kepala keluarga tunggal. Jika Tuhan ijinkan terjadi pasti Tuhan akan beri kekuatan untuk menghadapinya. Filipi 4: 13 saya imani dan perkatakan. Disitulah semangat saya timbul kembali bak matahari diufuk timur. Kami kehilangan Papi tercinta tetapi kami tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Dia pasti menyertai kami dalam setiap musim dan kami bertiga harus bahu membahu serta harus tetap bahagia baik dalam suka maupun duka. Dengan segenap tenaga saya kumpulkan sisa-sisa semangat yang ada menjadi semangat baru, saya mulai perincikan apa yg harus saya lakukan kedepan untuk menata hidup saya yang baru.

Sebagai seorang Psikolog tentu saya mengetahui cara mengatasi rasa duka tetapi yang saya mau adalah biarlah semuanya berjalan secara alami dan mengandalkan Tuhan untuk melepaskan perasaan itu. Setiap pagi yang terpenting adalah mencari hadirat-Nya, saya butuh dituntun oleh hikmatNya. Tak putus2nya saya berdoa agar Tuhan melimpahkan hikmat dan kekuatan extra bagi saya untuk meneruskan bisnis almarhum suami dan menjalankan bisnis saya sendiri. Saya kembali fokus pada destiny/blue print hidup yang telah Tuhan tetapkan untuk saya. Saya tau tujuan saya diciptakan baik sebagai seorang wanita, seorang ibu maupun sebagai seorang psikolog. Hanya Kekuatan dan penghiburan dari Tuhanlah yang memampukan saya bekerja dengan antusias melayani banyak anak/keluarga dan dengan kesibukan itu membuat saya melupakan kesedihan. Saya juga tetap pelayanan di Bizcom dengan penuh sukacita dan  jalani hari-hari bersama anak-anak dengan penuh ucapan syukur. Di dalam perjalanan inilah, Tuhan mendengar doa-doa saya, banyak perkara-perkara ajaib Tuhan lakukan, saya banyak dipertemukan dengan orang-orang tulus yang bersedia bekerja sama dengan bisnis saya. Tuhan tuntun saya dari hari ke hari. Iman saya pun smakin bertumbuh. Yang saya pandang hanya Yesus dan janji-janjiNya. Saat saya mengerjakan bagian saya maka Tuhan pun mengerjakan bagianNya.

Prestasi akademik dan sosialisasi anak-anak  juga berjalan dengan baik. Mereka tetap ceria, komunikasi kami tetap lancar dan hangat. Nilai-nilai yang saya hidupi terus saya bagikan kepada mereka dalam setiap percakapan kami, Hubungan kami pun semakin kompak dan selalu ada waktu untuk doa bersama. Puji Tuhan badai terhebat dalam hidup kami mampu dilewati dengan tenang bersama-Mu ya Bapa. Bertahun-tahun tertanam di Bizcom mengajarkan saya tetap berpusatkan pada Allah dalam situasi apapun dan terus bertumbuh didalam kebenaran dan kepedulian bukan hanya didalam bisnis tetapi juga dalam kehidupan pribadi. Hanya dengan melakukan ke tiga hal inilah saya tetap mendapatkan aliran damai sejahtera dan sukacita  ditengah badai yang  bergelora.

Saat ini hati dan pikiran kami jauh lebih pulih, kehidupan kami kembali dipenuhi canda tawa meskipun rasa kehilangan itu tetap ada namun firman-Nya menguatkan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” Amin… Thank you Lord

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s