Sturdy Backrest


By: Nissia Paramitha (Grogol)

Kemarin saya tidak bisa tidur. Jadilah saya bangun lagi, berusaha mencari “kegiatan”.

Waktu menunjukkan Pk 01.00 dini hari.

Saya membuka diary saya yang ada di laci meja. Buku ini adalah teman terbaik saya (selain Tuhan, tentunya).

Lalu, muncullah sebuah ide.  Saya berusaha menuliskan nama-nama teman terbaik yang saya punya selama ini. Kelihatannya ini sedikit sulit karena saya bukan orang super outgoing yang punya banyak teman.  Mereka biasanya yang mempunyai alur pikiran yang sama dengan saya, atau setidaknya, mirip lah, yang biasanya bisa jadi teman baik saya.

Hmm… List dimulai. Pertama, si A…

Kedua, si B…

Ketiga… Hmmm siapa ya.. Hmm… rasanya dia bukan teman baik saya. Hmm… Hmm…

Ternyata memang tidak mudah bagi saya untuk menemukan yang terbaik diantara yang baik.

Lalu, sejenak saya berpikir. Mengapa saya menggolongkan si A teman baik dan yang lain bukan? Dari mana tolok ukurnya? Tentunya ini subjektif, kan? Pakai perasaan saja.. Tapi mungkin juga tolok ukurnya dari jawaban, “Ke manakah kamu bercerita tentang masalah-masalah yang kamu hadapi?”

Lalu, saya mengingat beberapa teman yang diantaranya memang pernah saya “curhati”. Beberapa dari mereka tidak terlalu bisa menanggapi cerita saya dengan baik. Entah saya bisa menilainya dari sikapnya ataupun reaksinya. Pokoknya, saya bisa merasakan siapa yang akhirnya bisa menjadi teman baik. Pasti semua orang juga begitu, kan? Feeling kadang memang lebih kuat.

Karena kebingungan, saya membuka halaman di diary yang lain. Saya menemukan tulisan saya sendiri yang berbunyi, “There is one time that you really feels everybody is disappointing. But God will feel the way you feel.”

Ternyata, memang tak ada sahabat yang sesetia Tuhan Yesus

Kemudian hati saya seperti diingatkan, apakah kamu menganggap Tuhan adalah teman baikmu sehingga apapun yang kamu alami kamu cerita ke Dia terlebih dahulu sebelum ke yang lain? Karena ini adalah fondasi dari segala-galanya bahwa Dia harus dilibatkan dalam segala sesuatunya, sampai hal yang paling sepele sekalipun.

Dari mana level iman ditentukan? Tentu dari kedekatannya dengan Tuhan. Bagaimana kamu menganggap Tuhan adalah teman dekatmu kalau saat ada apa-apa, kamu nggak langsung “lari” ke Dia?

“Ah, kan Tuhan juga udah tau masalah kita walaupun kita gak pernah cerita…”

Beda loh. Tuhan Maha Tau, tapi Dia nggak mau tahu sama orang-orang yang nggak pengen tahu. Jadi poinnya ada di kitanya, apakah kita mencari Dia atau nggak. Ketika kita punya masalah dan kita dateng ke Tuhan, Tuhan pasti seneng karena anakNya mencari Dia.  So, let’s keep our good relationship with God!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s